Oleh: Romadhona Hartiyadi, Neno Oematan
Di tengah tantangan perubahan iklim, serangan hama, dan umur tanaman terong hibrida yang relatif pendek, Bapak Fredik Baitanu dari Desa Netpala menemukan sebuah inovasi sederhana yang memberikan hasil luar biasa. Melalui teknik sambung pucuk antara terong budidaya dan terong hutan, ia berhasil menghasilkan tanaman terong yang lebih kuat, tahan lama, dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Awalnya, Bapak Fredik melihat bahwa banyak petani mengalami masalah yang sama. Tanaman terong sering terserang hama dan penyakit, pertumbuhannya menurun setelah beberapa kali panen, bahkan harus diganti dengan tanaman baru sebelum memberikan hasil yang optimal. Berangkat dari rasa ingin tahu dan keinginan untuk mencari solusi, ia mulai mencoba memanfaatkan terong hutan yang dikenal memiliki akar kuat dan daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan.
Hasil percobaan tersebut ternyata melampaui harapan. Setelah disambungkan dengan berbagai jenis terong budidaya, tanaman menjadi lebih kokoh, lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, serta mampu berproduksi dalam waktu yang jauh lebih lama. Bahkan, pada satu batang tanaman dapat tumbuh hingga tiga jenis terong yang berbeda. Produksi buah menjadi lebih stabil dan masa panen yang panjang memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Keberhasilan ini menarik perhatian banyak petani di Desa Netpala dan desa-desa sekitarnya. Mereka datang untuk melihat langsung proses sambung pucuk yang dilakukan oleh Bapak Fredik. Dengan terbuka, ia berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya agar semakin banyak petani dapat menerapkan teknik tersebut di lahannya masing-masing.
Tidak hanya menghasilkan panen yang lebih baik, inovasi ini juga membuka peluang usaha baru. Bibit terong sambung yang diproduksi Bapak Fredik mulai banyak dipesan oleh petani lain. Bahkan, tanaman yang sudah siap berbuah sering kali langsung diminati pembeli sebelum dipasarkan. Dari sebuah percobaan sederhana, lahirlah peluang ekonomi yang menjanjikan sekaligus solusi pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Kisah Bapak Fredik membuktikan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan kemauan untuk terus belajar, petani mampu menciptakan solusi yang meningkatkan produktivitas, memperpanjang masa panen, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
