Di tengah hamparan kebun sayur yang hijau, Dance Kase (58 tahun) memulai aktivitasnya seperti biasa. Sudah hampir tiga dekade, sejak 1996, ia menggantungkan hidup dari bertani sayur.
Namun akhir-akhir ini, ada perubahan yang benar-benar ia rasakan. Harga sayuran membaik, hasil panen lebih cepat terjual, dan penghasilan keluarga menjadi lebih stabil sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saya lebih enak sekarang. Kalau buncis dulu biasa jual Rp6.000, sekarang bisa sampai Rp10.000,Bukan hanya Buncis . Menurut Bapak Dace, komoditas lain seperti daun bawang juga mengalami kenaikan harga yang cukup baik. “Dengan adanya MBG, sekarang sudah naik. Daun bawang juga sudah naik. Sekarang melonjak bagus.
Bagi petani kecil seperti Bapak Dance, perubahan terbesar bukan hanya soal harga, tetapi juga kemudahan menjual hasil panen. Dulu, ia harus membawa sayuran ke pasar besar dengan biaya dan tenaga tambahan. Kini, pembeli justru datang langsung ke kebun.
“Lebih mudah juga jualnya. Kalau dulu kan harus ke pasar., selama ada MBG sekarang, banyak yang membeli langsung di kebun juga. Jadi, tidak harus ke pasar
Sebelum program MBG berjalan para petani sayuran disini sering mengeluh. Harga tidak menentu, penjualan lambat, sementara biaya produksi terus berjalan. Kini, menurutnya, keadaan mulai berubah dan membaik.
Namun Menurut Bapak Dance, Untuk menjamin kualitas sayur agar tetap terjaga dan tanah tetap subur. Penggunaan pupuk organic sangatlah penting dalam proses bertani. Sejauh ini pengakuan dari pelanggan, sayuran dari kebunnya memiliki kualitas yang baik Keberhasilan ini membuka pandangan baru bagi masyarakat desa bahwa menanam sayur memiliki peluang ekonomi yang besar. Dengan pengelolaan yang serius dan konsisten, ternyata mampu menjadi sumber penghasilan.
Tambahan penghasilan itu bukan sekadar angka. Dari hasil panen di kebun yang terserap dengan baik bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang menjaga dapur tetap menyala dan masa depan anak-anak tetap berjalan hingga memutar kembali modal untuk menanam.
