Bapak Dance Kase, seorang petani dari Desa Kualeu, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan telah berhasil memasarkan buncis ke pihak pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bapak Dance memiliki kebun sayur kurang lebih 1 hektar yang tidak jauh dari rumahnya. Tersedia sumber air sepanjang tahun di dekat kebunnya. Selama bertani, ia memilih menanam beberapa komoditi sayuran yakni kol, petsai, buncis, dan wortel. Komoditi ini ditanam bergantian musim, ada juga yang ditanam dalam satu musim tanam.
Dalam satu musim tanam, Bapak Dance biasanya menghabiskan 1 bungkus benih sayur atau 1 kaleng benih wortel. Pada musim tanam 2025 lalu, Bapak Dance menanam buncis dan hasil panennya sudah beberapa kali di jual ke dapur SPPG di Soe, yakni di Timor Megah. Permintaan buncis pertama dari Dapur SPPG Timor Megah sebanyak 120 kilogram dengan harga jual Rp.12.000 per kilogram. Bila dibandingkan dengan harga buncis di pasar Kota Soe, penjualan ke pengelola dapur SPPG lebih mengungtunkan. Harga buncis di pasar Soe saat pengantaran produk di dapur SPPG Timor Megah adalah Rp.10.000 per kilogram.
Pengakuan Bapak Dance, keberhasilannya tidak datang secara instan. Ia terus belajar memperbaiki teknik budidaya, menggunakan pupuk organik, dan menjaga kualitas hasil panen agar tetap segar dan sehat. Hasilnya, sayuran dari kebunnya memiliki kualitas yang baik dan dipercaya oleh pembeli.
Keberhasilan ini membuka pandangan baru bagi masyarakat desa bahwa pertanian sayur memiliki peluang ekonomi yang besar. Dengan pengelolaan yang serius dan konsisten, kebun desa ternyata mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan, bahkan dapat menjangkau pasar di luar wilayah desa.
