Puang Adam, sapaan akrab masyarakat setempat untuk memanggilnya. Dalam bahasa Bugis, sebutan "Puang" merupakan bentuk penghormatan kepada sosok yang dituakan dan dihargai, baik laki-laki maupun perempuan.
Puang Adam (63 tahun) adalah seorang petani yang tinggal di Desa Erecinong, wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila-Walanae. Desa ini memiliki bentang alam pegunungan, perbukitan, dan lembah dengan ketinggian rata-rata 538 mdpl. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan dengan komoditas utama berupa padi, cabai, jagung, sayuran, madu, kemiri, kakao, dan aren. Di usianya yang ke-63 tahun, Puang Adam tetap aktif dan bersemangat bertani. Selain mengelola kebunnya setiap hari, ia juga bergabung dalam Kelompok Belajar Mulacolie yang dibentuk pada tahun 2022 melalui Program Land4Lives. Ia selalu mengikuti berbagai pelatihan Pertanian Cerdas Iklim yang dilaksanakan di kelompok belajar. Pengetahuan yang diperolehnya tidak berhenti sebagai teori, tetapi langsung diterapkan di kebunnya.
Kebun Puang Adam seluas 1,5 hektar berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya dengan akses yang tidak mudah. Jalan tanah yang berbatu dan menanjak menjadi tantangan setiap kali menuju kebun. Namun, tantangan terbesar justru berasal dari kondisi lahannya. Sebagian besar kebun merupakan hamparan batu besar dan kecil yang berada di punggung bukit sehingga tanah yang tersedia untuk bercocok tanam sangat terbatas.
Mengetahui kondisi lahannya yang terbatas, Puang Adam tidak menyerah. Dengan ketekunan dan semangat belajar, ia terus berupaya menjadikan kebunnya lebih subur dan produktif. Kini, kebunnya ditanami berbagai pohon buah, seperti durian, rambutan, alpukat, jeruk, kakao, mangga, dan sirsak. Di sela-sela tanaman tersebut, ia juga menanam nilam, daun bawang, pepaya, dan lada.
“Saya mengetahui cara berkebun campur agroforestri seperti ini dari mengikuti pelatihan Land4Lives,” tuturnya.
Ia bahkan memiliki cita-cita menjadikan kebunnya sebagai tempat belajar sekaligus agrowisata ketika pohon-pohon buah mulai berproduksi.
“Lahan berbatu bisa tumbuh subur dan menghasilkan, asal ada kemauan dan mau belajar,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Dalam mengelola lahannya yang didominasi bebatuan, Puang Adam menerapkan berbagai teknik Pertanian Cerdas Iklim yang sederhana. Ia menyesuaikan jarak tanam dengan kondisi lahan. Pohon buah ditanam dengan jarak sekitar 8 × 8 meter, sedangkan kakao dan lada berjarak 3 × 3 meter, meskipun tidak dapat diatur secara presisi seperti pada lahan yang lebih datar. Lubang tanam dibuat lebih lebar dan dalam, kemudian diisi kompos serta kotoran ternak agar tanah menjadi lebih gembur dan subur.
Perawatan tanaman juga dilakukan secara rutin. Puang Adam menggunakan pupuk organik cair buatannya sendiri, melakukan pemangkasan tanaman, serta memanfaatkan pestisida nabati yang dipelajarinya selama pelatihan. Untuk mengatasi keterbatasan air pada musim kemarau, ia memanfaatkan botol bekas sebagai irigasi tetes sederhana.
"Saya menggunakan botol bekas untuk membuat irigasi tetes agar air lebih hemat," ceritanya.
Di antara berbagai tanaman yang dibudidayakan, nilam menjadi komoditas yang paling nyata memberikan tambahan pendapatan. Daun nilam yang dipanen disuling menjadi minyak dan dijual hingga sekitar Rp650.000 per kilogram. Selain memberikan nilai ekonomi yang tinggi, nilam juga dapat dipanen berulang kali dan berfungsi sebagai tanaman penutup tanah.
Di balik keberhasilan tersebut, terjadi perubahan cara pandang dalam mengelola kebun. Menurut Puang Adam, tanaman hortikultura memang dapat dipanen lebih cepat, tetapi membutuhkan biaya dan tenaga yang lebih besar. Kini, ia lebih memilih sistem kebun campur karena memungkinkan berbagai tanaman tumbuh bersama dan memberikan hasil sepanjang tahun.
"Saya mau tidak terlalu capek. Tanam sekali, tinggal rawat dan panen terus," tuturnya sambil tersenyum.
Kisah Puang Adam menjadi inspirasi bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan lahan yang subur, tetapi membutuhkan kemauan untuk belajar, mencoba, dan tidak mudah menyerah. Dari lahan berbatu di punggung bukit, kini tumbuh harapan, produktivitas, dan keberlanjutan.
