Pak Ali (57 tahun) kini sudah dapat tersenyum melihat kebunnya sekarang menunjukkan hasil yang baik. Lahan seluas 30 are yang dulunya hanya ditanami tanaman semusim seperti jahe, kacang tanah dan jagung, kini berubah menjadi kebun agroforestri yang hijau, tertata dan produktif. Fluktuasi harga ketiga komoditas tanaman semusim tersebut menjadikan Pak Ali harus beradaptasi. “Waktu itu harga jahe anjlok, harga kacang tanah juga tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Akhirnya saya memutuskan untuk menanam jagung saja”, kenang Pak Ali. Meskipun menanam jagung cukup menjanjikan, ia menyadari jika hanya menanam jagung secara terus -menerus akan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, sementara ia hanya dibantu oleh istrinya. Di sisi lain ia memiliki keinginan untuk menanam tanaman jangka panjang, namun terhambat oleh ketidaktahuannya dalam memilih jenis tanaman yang cocok dan cara budidayanya.
Kesempatan datang ketika CIFOR – ICRAF Indonesia melalui program riset Land4Lives hadir di Desa Lamoncong. Dalam kegiatan sosialisasi program dan lokakarya desa, Pak Ali melihat peluang untuk belajar sekaligus memperbaiki cara pengelolaan lahannya. Pada pertemuan itu, Pak Ali bersedia menjadi ketua kelompok belajar dan menyediakan lahannya sebagai kebun belajar bagi petani lainnya di Desa Lamoncong. Ia rela meluangkan waktu untuk mengkoordinir rekan -rekannya, karena melihat adanya kesempatan belajar dan berkembang bersama petani lainnya.
Desa Lamoncong berada di wilayah Sub Landscape (SL)30 Bontocani, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan bentang lahan yang didominasi kawasan hutan dan perkebunan. Dalam beberapa tahun terakhir, jagung menjadi komoditas utama yang diusahakan masyarakat secara besar – besaran bahkan ditanam di lahan miring tanpa praktik konservasi lahan. Kondisi ini beresiko terjadinya degradasi lahan, bencana longsor dan meningkatnya kerentanan terhadap perubahan iklim.
Melalui pendekatan pertanian cerdas iklim, kebun belajar agroforestri mulai dibangun di lahan Pak Ali. Kebun belajar diinisiasi sebagai tempat petani untuk belajar tentang praktik - praktik pertanian cerdas iklim.
Pembangunan Kebun Belajar Agroforestri dimulai dengan diskusi bersama anggota kelompok untuk menentukan jenis tanaman sesuai dengan kondisi biofisik setempat dan tahan terhadap perubahan iklimseperti kekeringan dan curah hujan tinggi. Diskusi menyepakati beberapa tanaman yang di pilih untuk ditanam di kebun belajar antara lain pala, cengkeh, alpokat, durian, dan jenis tanaman sela yang biasa ditanam oleh pemilik lahan. Pengembangan kebun belajar dilakukan bersama-sama oleh semua anggota kelompok mulai dari persiapan lahan hingga penanaman agar seluruh anggota memahami praktik - praktik pertanian cerdas iklim yang diterapkan di kebun belajar. Sementara itu, perawatan kebun menjadi tanggung jawab Pak Ali sebagai pemilik lahan.
Setelah satu setengah tahun kebun belajar berjalan, perubahan nyata mulai terlihat. Tanaman – tanaman jangka panjang seperti: pala, cengkeh, alpukat dan durian tumbuh subur dengan jarak teratur 8 meter x 8 meter. Pengaturan jarak tanam yang sesuai tidak hanya untuk meningkatkan produktifitas tanaman juga menambah kesan rapi dan estetis “Saya sangat senang melihat kondisi kebun ini sekarang, terlihat lebih tertata,” ucap pak Ali sambil memperlihtakan beberapa jenis tanaman yang sangat bagus pertumbuhannya.
Sambil menunggu tanaman utama berproduksi, Pak Ali tetap menanam jagung di sela tanaman utama sebagai sumber pendapatan. Dalam empat musim tanam terakhir, jumlah jagung yang dipanen rata-rata 2 ton per musim dengan nilai penjulan sekitar 7 juta rupiah. Selain memberikan manfaat secara ekonomi, jagung juga dapat menjadi penaung sementara bagi tanaman utama. Hal ini membuktikan bahwa pengelolaan kebun secara agroforestry dapat memperoleh manfaat baik secara ekonomi maupun linkungan, selain itu juga dapat meningkatkan produktivitas lahan karena dalam 1 lahan yang sama dapat ditanam lebih dari 1 jenis tanaman dan saling menguntngkan satu sama lain.
Sambil menunggu tanaman utama berproduksi, Pak Ali tetap menanam jagung di sela tanaman utama sebagai sumber pendapatan. Dalam empat musim tanam terakhir, jumlah jagung yang dipanen rata-rata 2 ton per musim dengan nilai penjulan sekitar 7 juta rupiah. Selain memberikan manfaat secara ekonomi, jagung juga dapat menjadi penaung sementara bagi tanaman utama. Hal ini membuktikan bahwa pengelolaan kebun secara agroforestry dapat memperoleh manfaat baik secara ekonomi maupun linkungan, selain itu juga dapat meningkatkan produktivitas lahan karena dalam 1 lahan yang sama dapat ditanam lebih dari 1 jenis tanaman dan saling menguntngkan satu sama lain.
“Kebun ini sekarang sudah jauh berubah, dulu hanya lahan yang ditanami jagung, namun sekarang sudah sangat beragam jenis tanamannya,” ujar Pak Ali sambil mengenang.Tidak hanya itu, Pak Ali juga menanam pisang yang kini sudah dua kali panen. Selain menambah pendapatan, tanaman pisang dan tanaman lain yang mulai besar menjadikan kebun terasa lebih sejuk. “Sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu di kebun ,bahkan siang hari pun betah meskipun hanya untuk duduk santai di pondok,” ucapnya sambil tersenyum. Perubahan ini menunjukkan bahwa praktik agroforestri tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk yang menurunkan suhu lokal. Pak Ali telah membuktikan bahwa praktik sederhana dapat berkontribusi pada dampak besar, dari lahan yang sebelumnya dikelola secara monokultur menjadi kebun agroforestri yang beragam dan berketahanan.
Kisah Pak Ali dari Desa Lamoncong menjadi inspirasi bahwa dengan pengetahuan dan kemauan belajar, petani dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim dan meningkatkan kesejahteraannya. Praktik sederhana yang dilakukan Pak Ali dalam mengelola kebun agroforestri turut berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim khusunya dalam bidang pertanian.
