Oleh: Iskak Nugky Ismawan
Di Desa Massila, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone, bentang lahan perbukitan dan pegunungan menjadi panorama yang terlihat setiap hari. Sebagian besar masyarakat Desa Massila menggantungkan hidup dari lahan untuk bertani dan berkebun. Selain bertani, sebagian warga juga memelihara ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing.
Sebagian besar lahan di Desa Massila didominasi sawah tadah hujan yang ditanami padi dan jagung, serta kebun dengan komoditas utama seperti kakao, kemiri, pala, alpukat, durian, dan tanaman kayu. Dalam lima tahun terakhir, kondisi ini menjadi masa yang berat bagi petani Massila. Perubahan pola musim yang sulit diprediksi membuat jagung dan padi kerap gagal panen. Musim kemarau yang lebih panjang juga berdampak pada tanaman yang mulai berbulir, tetapi justru gugur karena pasokan air berkurang. Sistem pertanian tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan membuat kondisi ini semakin rentan.
Kerugian yang dirasakan petani tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga dari waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan. Namun demikian, bagi masyarakat Massila, bertani tetap menjadi pilihan utama meski risiko yang dihadapi tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, Halim (56 tahun), memiliki pandangan berbeda. Berdasarkan pengalaman panjangnya dalam bertani, ia menyadari bahwa mengejar hasil jangka pendek dari tanaman semusim justru dapat menjadi beban di usia tua.
“Kalau yang kita kejar jangka pendeknya, sampai tua tersiksa,” tuturnya.
Ia menjelaskan panjangnya proses budidaya tanaman semusim seperti jagung, mulai dari menyiapkan lahan, pembajakan, penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan. Belum lagi proses pascapanen seperti pengangkutan, pemipilan biji jagung, penjemuran, dan penjualan. Satu siklus budidaya umumnya memakan waktu empat bulan, dan petani bisa menanam tiga kali setahun. Proses ini membutuhkan banyak tenaga dan pikiran.
Tingginya permintaan jagung dari luar kota dan luar provinsi mendorong sebagian masyarakat membuka lahan baru, bahkan hingga wilayah perbukitan, atau mengubah kebun mereka menjadi ladang jagung. Hal tersebut dilakukan untuk mengejar produksi jagung yang dijual.
Halim memiliki pandangan berbeda. Ia memilih mempertahankan kebun campur miliknya yang luasnya sekitar satu hektar. Di kebun tersebut ditanam beragam tanaman seperti pinang, kelapa, durian, alpukat, merica, langsat, dan tanaman kayu yang telah besar. “Saya sudah tua, perlu hemat tenaga. Datang ke kebun untuk membersihkan rumput dan panen. Di kebun ini, saya tanam sekali, tapi panennya bisa sepanjang waktu,” tuturnya.
Menurut Halim, mengelola kebun campur bukan hanya menghemat tenaga, tetapi juga memberi hasil yang berkelanjutan. Untuk memenuhi kebutuhan makan, ia masih memiliki sedikit sawah. Buah kakao dapat dipanen setiap minggu, kelapa dapat dijual segar atau diolah menjadi kopra, dan hasilnya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia hanya perlu datang ke kebun untuk membersihkan rumput dan panen. Semua bisa dilakukan sendiri bersama keluarga, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tenaga kerja atau penanganan pascapanen yang rumit.
Selain manfaat ekonomi, kebun campur milik Halim juga memberikan manfaat ekologis. Udara di kebun terasa lebih sejuk dan nyaman dibandingkan lahan di sekitarnya yang terbuka dan gersang. Pepohonan yang rindang menjadi tempat berteduh, sementara rumput liar dibiarkan tumbuh sebagai mulsa alami yang menjaga kelembapan tanah dan menjadi sumber pakan ternak sapi. Suara kicau burung dan satwa lainnya masih sering terdengar, pertanda bahwa keseimbangan ekosistem masih terjaga.
“Harapan saya sederhana, semoga masyarakat dapat menanam seperti dulu, banyak tanaman kebun dan pohon kayu. Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak dan cucu kita nanti,” ucap Halim.
Sebagai anggota kelompok belajar dalam program riset aksi Land4Lives, kebun Halim kini menjadi lokasi pembelajaran bagi petani lain. Di sana, mereka belajar praktik agroforestri, pengaturan jarak tanam, pengayaan jenis tanaman, serta teknik peremajaan dan pemangkasan kakao.
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Beberapa petani mulai meniru pola kebun campur dengan menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan, mengatur jarak tanam, dan membiarkan rumput tumbuh sebagai penutup tanah alami.
Cerita Halim menjadi bukti bahwa di tengah tekanan ekonomi dan perubahan iklim, pilihan untuk kembali ke sistem kebun campur bukan hanya relevan, tetapi juga menjadi solusi yang berkelanjutan bagi petani, lingkungan, dan generasi mendatang.
