Penulis : Nur Musrika Dewi, Berlian Anggreini, Joggy Marshal
Pak Tuwon, sosok petani sederhana namun penuh makna, Lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 3 Juni 1973. Kini, di usianya yang ke-52 tahun, beliau tinggal di Desa Ganesha Mukti, sebuah wilayah transmigrasi yang kini telah menjadi tempatnya berakar dan mengabdi. Nama “Tuwon” dalam Bahasa Jawa berarti benar, dan makna itu benar-benar tercermin dalam kesehariannya: Jujur, lurus dalam prinsip, serta teguh menjaga nilai-nilai kehidupan.
Sebagai peserta program transmigrasi, Pak Tuwon membangun kehidupan baru di Desa Ganesha Mukti, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarganya. Beliau adalah suami dari ibu Siti sari dan ayah dari dua anak. Anak pertama bernama Prayogi Chandra dan anak keduanya bernama Ahmad Rifki. Bersama keluarganya, ia menghidupi nilai-nilai kerja keras dan cinta terhadap tanah yang mereka olah.
Pak Tuwon aktif dalam kelompok tani karya tani desa Ganesha Mukti, tempat ia menyalurkan semangat bertaninya sekaligus berbagi pengalaman dengan sesama petani. Pada tahun 2023, ia mulai bergabung dengan ICRAF (The Center For Internatonal Forestry Research and World Agroforestry), lembaga yang beliau pandang bukan sekedar pemberi bantuan. Bagi pak Tuwon, ICRAF adalah mitra luar biasa bukan hanya memberi dukungan material, tetapi juga terus memantau dan membina perkembangan kelompok tani secara langsung dan berkelanjutan. Bagi Pak Tuwon, bertani bukan semata – mata tentang hasil panen, tetapi tentang merawat kehidupan, membangun relasi dengan alam, dan menanam harapan untuk masa depan. Lewat tangan-tangan yang setia menggenggam cangkul dan hati yang tulus menyatu dengan tanah, Pak Tuwon menjadikan pertanian sebagai jalan hidup yang penuh keindahan dan keteladanan.
Salah satu terobosan yang dilakukan Pak Tuwon adalah mendirikan kebun belajar berbasis sisem agroforestri dilahan seluas ¼ hektar miliknya. Dikebun tersebut beliau menanam berbagai jenis tanaman buah seperti buah kelapa, buah kelengkeng, buah manggis, durian, alpukat, dan jambu kristal total sebanyak 35 batang. Tak hanya tanaman tahunan, beliau juga memanfaatkan sebagian lahan untuk tanaman sayuran seperti kangkung, sawi, kacang panjang, cabai, Talas dan lain-lain. Harga jual hasil kebun beliau pun cukup kompetitif : kangkung dan sawi dihargai Rp. 4.000 per ikat, kacang panjang Rp. 8.000 per ikat, dan cabai mencapai harga Rp. 40.000 per kilogram.
Keistimewaan kebun belajar milik Pak Tuwon tidak terletak semata pada keberagaman komoditas yang tumbuh di atas lahan seluas seperempat hektar, tetapi juga pada pendekatan bertani yang beliau terapkan secara sadar dan berkelanjutan. Melalui pendampingan ICRAF, Pak Tuwon mengadopsi praktik pertanian ramah lingkungan, seperti penggunaan kompos padat dan cair, pupuk organik, serta pestisida alami berbentuk asap cair yang diolah dari limbah sekam. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat produktivitas kebun, tetapi juga membentuk sistem pertanian yang selaras dengan prinsip agroekologi dan keberlanjutan lingkungan.
Menariknya, kebun tersebut bukan sekadar lahan budidaya bagi Pak Tuwon. Beliau memaknainya lebih dalam sebagai ruang kehidupan yang menyatu dengan alam. Sebagian hasil panen dari kebun belajar beliau gunakan untuk konsumsi keluarga, sementara sisanya dijual sebagai sumber penghasilan tambahan. Namun, nilai sejati dari kebun ini tidak hanya dihitung dari ekonomi, melainkan juga dari harmoni yang tercipta antara petani dan tanah yang ia kelola.
Bagi Pak Tuwon, kebun belajar ini adalah "ladang surga", sebuah metafora yang merepresentasikan rasa syukur dan kelimpahan. Sebagaimana surga yang diyakini sebagai tempat segala kebutuhan tersedia, begitu pula kebun miliknya. Segala hasil bumi tumbuh berdampingan: kelapa, durian, kelengkeng, manggis, alpukat, jambu kristal, hingga sayuran segar seperti kangkung, sawi, kacang panjang, dan cabai. “Tidak perlu mencari ke tempat lain, semuanya ada di sini,” begitu ungkapnya. Kebun ini telah menjadi ekosistem mini tempat ilmu, pangan, dan nilai hidup tumbuh bersama dalam keseimbangan.
