Bagi Bapak Yeremias Pay, kebun tidak hanya berfungsi sebagai tempat bercocok tanam untuk menghasilkan pendapatan. Di sekitar rumahnya, ia membangun sebuah kebun dapur dengan konsep Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri. Dari lahan yang tidak terlalu luas, tumbuh berbagai jenis sayuran, rempah-rempah, buahan, dan tanaman pangan yang memberikan manfaat setiap hari bagi keluarganya.
Awalnya, sebagian kebutuhan sayur dan bumbu dapur masih harus dibeli dari pasar. Selain membutuhkan biaya tambahan, ketersediaan beberapa jenis sayuran juga tidak selalu terjamin. Melihat kondisi tersebut, Bapak Yeremias mulai memanfaatkan pekarangan dan area di sekitar kebun dengan menanam berbagai komoditas secara tumpang sari. Beragam jenis tanaman seperti sawi, kangkung, cabai, tomat, terong, dan aneka rempah ditanam dalam satu kawasan sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Dengan menerapkan penggunaan pupuk organik dan pola tanam yang teratur, kebun dapur tersebut berkembang menjadi sumber pangan keluarga yang berkelanjutan. Hampir setiap hari keluarga dapat memanen sayuran segar langsung dari kebun untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Selain lebih hemat, keluarga juga mendapatkan makanan yang lebih sehat karena mengetahui secara langsung proses budidaya yang dilakukan tanpa penggunaan bahan kimia berlebihan.
Manfaat yang dirasakan tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Ketika produksi sayuran melimpah, sebagian hasil panen dijual kepada tetangga dan masyarakat sekitar. Hasil penjualan tersebut menjadi tambahan pendapatan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dari kebun sederhana itu, Bapak Yeremias membuktikan bahwa pekarangan rumah dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga.
Menurut Bapak Yermias, kebun dapur B2SA bukan sekadar tempat menanam tanaman, melainkan investasi jangka panjang untuk kesehatan keluarga. Keberagaman tanaman yang ada membuat kebutuhan gizi lebih terpenuhi karena keluarga dapat mengonsumsi berbagai jenis sayuran dan bahan pangan yang berbeda setiap hari. Selain itu, keberadaan kebun juga mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar desa.
Kini, kebun dapur milik Bapak Yeremias sering menjadi contoh bagi masyarakat sekitar yang ingin memanfaatkan pekarangan rumah secara produktif. Banyak warga mulai tertarik menanam sayuran sendiri setelah melihat manfaat nyata yang dirasakan keluarganya. Kisah ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan keluarga dapat dimulai dari langkah sederhana, yaitu mengelola lahan yang ada dengan baik, konsisten, dan penuh semangat. Dari kebun kecil yang hijau dan produktif, tumbuh harapan akan keluarga yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.
