Bagi Bapak Yusman Tanesi dan kelompok, musim kemarau bukan alasan untuk menyerah pada keterbatasan air. Sebagai petani di Desa Nunbena, ia memahami betul bagaimana sulitnya mempertahankan tanaman tetap tumbuh saat curah hujan berkurang dan sumber air semakin terbatas. Kondisi tersebut sering menjadi tantangan yang dihadapi banyak petani, bahkan tidak jarang menyebabkan tanaman layu dan hasil panen menurun.
Berangkat dari kondisi tersebut, Bapak Yusman penggerak kelompok mulai mencari cara yang sederhana, murah, dan sesuai dengan kondisi lingkungan di desanya. Ia kemudian memanfaatkan bambu yang banyak tersedia di sekitar desa untuk membuat sistem irigasi tetes sederhana. Dengan sedikit kreativitas dan kemauan untuk mencoba, bambu yang biasanya hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari diubah menjadi sarana untuk menyalurkan air langsung ke tanaman.
Melalui sistem ini, air dialirkan secara perlahan dan teratur menuju area perakaran tanaman. Cara tersebut membuat penggunaan air menjadi lebih efisien karena air tidak banyak terbuang akibat penguapan atau aliran permukaan. Selain itu, kelembapan tanah dapat terjaga lebih lama sehingga tanaman tetap memperoleh kebutuhan air meskipun musim kemarau sedang berlangsung.
Hasil yang diperoleh cukup menggembirakan. Tanaman di kebunnya mampu tumbuh lebih baik dibandingkan sebelumnya ketika penyiraman dilakukan secara biasa. Kebutuhan air menjadi lebih hemat, sementara tanaman tetap dapat berkembang dengan baik meskipun cuaca panas berlangsung cukup lama. Bagi Bapak Yusma, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dapat memberikan dampak yang nyata bagi usaha tani.
Selain membantu menjaga produktivitas kebun, penggunaan irigasi tetes dari bambu juga memberikan manfaat ekonomi. Karena bahan yang digunakan mudah ditemukan di sekitar desa, biaya pembuatan sistem ini sangat rendah dan dapat diterapkan oleh hampir semua petani. Hal ini menjadi solusi yang relevan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi irigasi yang lebih modern dan mahal.
Keberhasilan yang ditunjukkan Bapak Yusman mulai menarik perhatian petani lain di Desa Nunbena. Banyak yang datang untuk melihat secara langsung bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana bambu dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi masalah kekurangan air. Dengan senang hati, ia berbagi pengalaman dan menjelaskan proses pembuatannya agar semakin banyak petani dapat memanfaatkan teknologi sederhana tersebut.
Menurut Bapak Yusman, solusi pertanian tidak selalu harus berasal dari teknologi yang rumit atau membutuhkan biaya besar. Dengan memahami kondisi lingkungan dan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia, petani dapat menemukan cara-cara kreatif untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi.
Kisah Bapak Yusma Tanesi menunjukkan bahwa inovasi sering lahir dari kebutuhan dan keberanian untuk mencoba. Dari sebatang bambu yang sederhana, ia berhasil menciptakan solusi yang membantu menghemat air, menjaga produktivitas tanaman, dan memberikan inspirasi bagi petani lain untuk terus berinovasi dalam menghadapi perubahan iklim dan musim kemarau yang semakin panjang.
