Pak Wawan, petani kelapa yang juga menanam sayuran dipekarangan rumahnya, berhasil memproduksi hampir 1 ton pupuk organik padat setelah mengikuti pelatihan dari Land4lives selama satu tahun terakhir. Beliau menggunakan pupuk tersebut untuk kebunnya dan sebagian hasilnya ia dibagikan ke tetangga yang membutuhkan.
Sebelum bergabung dengan Land4lives, Pak Wawan bertani dengan cara konvensional dan mengandalkan pupuk kimia. Namun pada beberapa tahun terakhir, harga pupuk kimia dipasaran terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi banyak petani termasuk pak wawan, karena biaya produksi meningkat sementara hasil panen belum tentu ikut naik. Selain itu, penggunaan pupuk kimia secara terus menerus juga dapat berdampak buruk pada Kesehatan tanah dalam jangka Panjang. Melihat permasalahan tersebut, muncul kebutuhan akan Solusi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Salah satu jawabannya adalah pupuk organic, yang dibuat dari bahan-bahan alami di sekitar lingkungan.
setelah mengikuti pelatihan terkait manfaat pupuk organik, beliau mulai mempraktikannya dirumah dengan skala besar. Bahan yang digunakan cukup sederhana dan berasal dari lingkungan sekitar, yaitu kohe (kotoran hewan), rumput, air cucian beras, batang pisang, dan sisa dapur bahan organik lainnya. Kombinasi bahan tersebut difermentasi menjadi pupuk organic padat yang berkualitas yang kemudian digunakan dikebun pribadinya untuk menyuburkan tanaman kelapa dan sayuran. Menariknya Pak Wawan tidak menjual pupuk organic hasil produksinya melainkan justru membagikannya secara gratis ketetangga yang membutuhkan. Hal ini membuat dampak dari penggunaan pupuk organic tidak hanya dirasakan beliau tetapi juga oleh masyarakat sekitar.
Pak Wawan menjadi contoh nyata bahwa praktik pertanian berkelanjutan bisa dimulai dari rumah sendiri. Komitmen beliau dalam mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memilih memanfaatkan limbah organic menunjukkan perubahan kecil yang berdampak besar. Dengan semangat berbagi dan belajar, Pak Wawan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarganya, tetapi juga mendorong komunitasnya menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan.
