Oleh; Andi prahmono, Narasumber: Harjo Suwito
Seperti dalam pepatah kuno, belajarlah dari ayunan hingga ke liang lahat. Ini menjadi realita hidup yang saat ini dijalankan oleh kakak beradik, yakni mbak Harjo Suwito dan Sarikun. Mereka berdua merupakan saudara kandung dan aktif sebagai anggota kelompok belajar karya tani, Desa Ganesha Mukti blok B. Secara administrasi, sebenarnya mbak sarikun lebih awal atau sejak dibentuk kelompok belajar yang diberi nama ” KARYA TANI” telah terdaftar sebagai anggota kelompok, sementara mbah Harjo, setahun setengah setelah kelompok belajar terbentuk baru bergabung dan aktif hingga saat ini.
Usia senja bukanlah penghalang bagi mereka untuk selalu berkarya, Mbah Harjo yang telah berusia 74 tahun, sementara mbah Sarikun berusia 65 tahun, seakan tidak merasa puas dengan segala pengalaman dan ilmu-ilmu yang diperolehnya selama bergabung dengan kegiatan land4lives. Aktivitas yang dijalaninya sekarang ini adalah mengolah sekam padi ( berambut : bahasa lokal) menjadi produk arang sekam yang bermanfaat untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah. Hasil dari pembuatan arang sekam ini dimanfaatkan untuk menambahkan bahan organik ke sawah miliknya, selain dipakai sendiri sebagian besar produknya di jual kepada tetangga di sekitar beliau tinggal. Sejak memulai membuat arang sekam ini dari bulan Agustus 2025 hingga januari 2026, sudah sebanyak 300 karung lebih yang berhasil diproduksi. Dari total arang sekam tersebut yang dipakai sendiri sejumlah 105 karung, sementara yang dijual sudah mencapai 200 karung dengan harga jual sebesar Rp. 30.000 per karung 50 kg. Rata-rata berat 1 karung arang sekam sebesar 17 kg jika di timbang.
Sawah yang ditaburi arang sekam sebanyak 60 karung seluas 1 hektar, kondisi pertumbuhan padinya sangat jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika dibandingkan pertumbuhan padi tahun 2025 lalu, kondisi padinya banyak yang terkena asam-asaman, yakni pertumbuhan padi terlambat, warna daun kuning dan terlihat kerdil, namun setelah sawahnya ditaburi dengan arang sekam, terlihat pertumbuhan padi seragam dan tidak ada yang terkena asam-asaman. Tinggi padi sekitar 80-90 cm dan bulir padinya terlihat bernas. Selain aplikasi arang sekam untuk meningkatkan pH tanahnya, Mbah Harjo selalu menambahkan asap cair sebanyak 1 gelas aqua ( 220 ml) per tangki semprot kapasitas 16 liter saat melakukan penyemprotan, baik menyemprot herbisida maupun insektisida.
Bukti nyata dari manfaat yang dirasakan dalam penggunaan arang sekam terhadap produktivitas padinya yakni petak sawah no 2 seluas 1 hektar, pada tahun 2025 lalu hasilnya hanya 54 karung, setelah ditaburi dengan arang sekam sejumlah 45 karung, hasil padinya di bulan Februari 2026 ini meningkat signifikan yakni menjadi 106 karung gabah. Sementara di Petak sawah nomer 7 dengan luas 1 Hektar, hasil gabah di tahun 2025 lalu hanya berjumlah 66 karung, nah di tahun 2026 ini meningkat menjadi 77 karung gabah setelah sawahnya di taburi arang sekam sebanyak 60 karung. Dari ke dua petak sawah tersebut, Mbah harjo mengaplikasikan pupuk sintesis berupa Urea dan NPK Phonska sebanyak 1 karung pupuk Urea dan 3 Karung NPK Phoska.
”Kulo ngaturaken matur suwun sanget kaleh rencang-rencang saking ICRAF, sampun ngenalke coro gawe sekam bakar lan mendampingi coro-coro aplikasike teng tanduran, sak iki manjan percoyo kalo arang sekam iku apik kangge pertumbuhan lan hasil pertanian” begitu kata Mbak Harjo yang sehari-hari memakai bahasa jawa yang masih cukup kental
Dengan hasil nyata yang dipraktekkan oleh Mbah Harjo ini, menguatkan keyakinannya bahwa dengan memanfaatkan limbah sekam padi yang diolah menjadi arang sekam ( Biochar) bisa membantu petani dalam meningkatkan hasil panen dan mengurangi penggunaan pupuk sintesis. Berkat kegigihan dan keuletannya ini, produk arang sekam saat ini menjadi bahan perbincangan yang hangat dikalangan petani didesa ganesha mukti.
