Kisah Sukses Kebun Dapur Rusdiaman di Desa Waekeccee
Kebun dapur Rusdiaman yang masih aktif dikembangkan dengan berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, sawi, terong, tomat, dan cabai (Asgar, Landscape Alliance)
Semua berawal dari pertemuan di kantor desa, ketika perwakilan kelompok tani berkumpul membicarakan seperti apa pertanian cerdas iklim yang mereka pikirkan. Kemudian, terbentuklah kelompok-kelompok belajar. Pelatihan demi pelatihan dilakukan untuk lebih mengenal apa itu pertanian cerdas iklim yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kebun-kebun belajar dibangun beserta pembibitan, rumah benih, kebun dapur pekarangan, dan unit produksi pupuk organik. Sebagian juga membentuk kelompok usaha, sebagian yang lain membentuk kelompok wanita yang mengelola kebun dapur komunal untuk ketahanan pangan dan gizi rumah tangga.
Berjalan lebih dari tiga tahun, percobaan demi percobaan dilakukan di kebun sendiri, kegagalan dan kesuksesan menjadi bagian penting dari proses belajar. Mereka-mereka yang tekun berjalan di tengah keterbatasan dan tantangan, adalah para pelopor pertanian cerdas iklim; yang terus konsisten mencoba menerapkan. Tak cukup, mereka kini juga mencoba membagikan pengalamannya kepada petani-petani lain agar lebih banyak lagi yang mencoba dan mendapatkan dampak dari pertanian cerdas iklim.
Simak cerita-cerita pembelajaran para pelopor pertanian cerdas iklim di berbagai lokasi TP2CI yang ada saat ini.
Kebun dapur Rusdiaman yang masih aktif dikembangkan dengan berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, sawi, terong, tomat, dan cabai (Asgar, Landscape Alliance)
Read MoreAbidin (50 tahun), seorang petani kakao dari Kelompok Belajar Siamasei 1, Desa Turuadae, memulai perjalanannya bersama Land4Lives dengan semangat belajar dan keinginan untuk memperbaiki kebun kakaonya. Kebun yang sebelumnya sudah tua dan kurang terawat kini mulai kembali produktif. Sebagai ketua kelompok, Abidin tidak hanya aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan…
Read MorePekarangan rumah sering kali dipandang sebagai lahan kosong. Padahal, jika dikelola dengan baik, pekarangan dapat menjadi sumber pangan bergizi sekaligus tambahan pendapatan bagi keluarga. Berbagai jenis sayuran dan tanaman buah dapat ditanam untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, bahkan hasil panennya dapat dijual. Pemanfaatan pekarangan juga menjadi salah satu cara sederhana…
Read MoreNilma, anggota Kelompok Belajar Padaidi di Desa Massila, menjadi salah satu penggerak kelompok dalam mengembangkan kebun dapur yang produktif. Dengan semangat yang konsisten, Nilma mengajak anggota kelompok yang berjumlah 25 orang, terdiri atas 18 perempuan dan 7 laki-laki, untuk menerapkan berbagai teknik sederhana dalam budi daya sayuran yang mereka pelajari…
Read MoreKelompok Usaha Pakkita di Desa Latellang merupakan salah satu contoh kelompok usaha rumah tangga yang berkembang melalui pelatihan dan pendampingan Program Riset Aksi Land4Lives. Kelompok ini beranggotakan 39 orang, terdiri atas 31 perempuan dan 8 laki-laki. Pakkita terbentuk setelah anggota mengikuti pelatihan pengolahan kolang-kaling yang difasilitasi oleh tim Land4Lives.
Read MoreDarwis (70 tahun), seorang petani dari Desa Maggenrang, merupakan anggota Kelompok Belajar Sayang Ibu yang berhasil menghidupkan kembali produktivitas kebun kakaonya. Melalui program Land4Lives (L4L), Darwis belajar dan menerapkan berbagai teknik peremajaan tanaman kakao, seperti sambung pucuk, sambung samping, dan peremajaan tanaman.
Read More