Oleh: Hamsir & Iskak Nungky Ismawan
Darwis (70 tahun), seorang petani dari Desa Maggenrang, merupakan anggota Kelompok Belajar Sayang Ibu yang berhasil menghidupkan kembali produktivitas kebun kakaonya. Melalui program Land4Lives (L4L), Darwis belajar dan menerapkan berbagai teknik peremajaan tanaman kakao, seperti sambung pucuk, sambung samping, dan peremajaan tanaman.
Untuk meningkatkan keragaman tanaman sekaligus mendukung pertumbuhan kakao, Darwis juga menanam berbagai tanaman penaung dan tanaman bernilai ekonomi, seperti durian, pala, alpukat, dan merica. Cabai ditanam di antara tanaman kakao untuk menambah produktivitas dan memberikan sumber pendapatan tambahan. Ia juga memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk kandang yang diolah secara sederhana untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Keterlibatan Darwis dalam kegiatan Land4Lives bermula ketika ia mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh program tersebut. Putranya, Mulyadi, merupakan ketua Kelompok Belajar Sayang Ibu di desanya. Selain itu, kebun milik keluarga yang berada di belakang rumahnya dipinjamkan sebagai kebun belajar kelompok. Hal ini membuat Darwis terlibat aktif dalam berbagai kegiatan dan praktik yang dilakukan di kebun tersebut.
Sebelumnya, Darwis lebih mengandalkan budidaya padi di sawah sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Pengetahuannya tentang budi daya tanaman perkebunan juga masih terbatas, sehingga kebun kakao miliknya tidak terkelola dengan baik dan belum mampu menghasilkan secara optimal.
Melalui berbagai pelatihan Land4Lives, Darwis memperoleh pengetahuan baru mengenai pengelolaan kebun agroforestri kakao, mulai dari pengaturan jarak tanam, teknik pemangkasan, perbanyakan tanaman kakao, hingga memadukan kakao dengan berbagai tanaman lainnya.
Pengetahuan tersebut kemudian ia terapkan di kebunnya. Kebun yang sebelumnya tidak terurus kini menjadi lebih produktif dengan berbagai tanaman yang tumbuh di dalamnya. Selain kakao, Darwis menanam tanaman semusim seperti cabai, terong, dan ubi jalar. Hasil panen, khususnya cabai, memberikan tambahan pendapatan bagi Darwis dan keluarganya. Kini, kebun tersebut telah berubah menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan bagi keluarga Darwis. Keragaman tanaman di dalamnya juga membuat sumber penghidupan keluarga tidak lagi hanya bergantung pada satu komoditas.
Praktik yang diterapkan Darwis sejalan dengan prinsip pertanian cerdas iklim, yaitu membangun sistem usaha tani yang lebih beragam dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan tidak hanya mengandalkan hasil padi sawah, pengembangan kebun kakao berbasis agroforestri memberikan alternatif sumber pangan dan pendapatan bagi keluarga.
Bagi Darwis, perubahan di kebunnya bukan hanya tentang meningkatkan hasil panen. Kebun tersebut kini menjadi ruang belajar sekaligus contoh bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif masih dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan yang lebih beragam dan berkelanjutan.
