Oleh: Hamsir
Kamistan merupakan salah satu petani dampingan Land4Lives di Desa Duaboccoe. Sebelum menjadi petani, ia berprofesi sebagai guru. Namun, ia memutuskan beralih menjadi petani dan peternak, dan kini sukses mengembangkan usaha pertanian dan peternakan secara bersamaan.
Sejak bergabung dengan Land4Lives pada 2022, Kamistan aktif mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi, pelatihan Climate Smart Agriculture (CSA), pengembangan kebun dapur, hingga pelatihan pangan dan gizi. Keaktifannya membuat ia dipercaya menjadi salah satu petani pelopor di desanya.
Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan, Kamistan membangun kebun dapur di pekarangan rumah dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik. Berbagai jenis sayuran, seperti cabai, tomat, dan kemangi, tumbuh subur dan menjadi sumber pangan segar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Tidak hanya itu, Kamistan juga mengembangkan kebun agroforestri kakao yang terintegrasi dengan usaha peternakannya. Di lahan seluas 0,25 hektare, ia menanam kakao bersama berbagai tanaman lainnya, seperti kelapa, pisang, mangga, pala, dan pepaya. Di sela-sela tanaman tersebut, ia membudidayakan rumput gajah sebagai pakan kambing. Pisang dan pepaya tidak hanya memberikan tambahan pendapatan saat panen, tetapi juga berfungsi sebagai tanaman penaung yang mendukung pertumbuhan kakao.
Setiap hari, Kamistan meluangkan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk merawat kebunnya sebelum melanjutkan aktivitas mengurus kambing, itik, dan ayam kampung. Dari hasil berkebun dan beternak, ia mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan ketiga anaknya.
"Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat sejak bergabung dengan Land4Lives, termasuk tumbuhnya kembali semangat untuk mengembangkan kakao yang sempat padam akibat serangan hama dan penyakit," tuturnya.
Kini, tanaman kakao hasil sambung pucuk yang dikembangkannya mulai berproduksi. Ia berharap kebunnya dapat menjadi tempat belajar bagi petani lain yang ingin menerapkan sistem agroforestri.
"Dengan tanaman dan ternak, kita bisa lebih bertahan menghadapi perubahan iklim yang terjadi saat ini," ujarnya.
Di kebunnya, Kamistan juga menerapkan berbagai praktik Climate Smart Agriculture. Ia tidak lagi menggunakan herbisida untuk mengendalikan gulma. Sebaliknya, gulma dibiarkan tumbuh sebagai mulsa alami yang membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus mengurangi penguapan.
Kotoran ternak dari kandang dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman. Selain itu, ia menanam rumput gajah sebagai lajur vegetasi di antara tanaman untuk memperlambat aliran permukaan, mengurangi erosi, dan menjaga kualitas tanah.
Seluruh praktik tersebut membentuk sistem yang saling terhubung. Rumput gajah dari kebun dimanfaatkan sebagai pakan kambing, sementara kotoran kambing dikembalikan ke kebun sebagai pupuk organik. Melalui sistem ini, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan, biaya produksi menjadi lebih efisien, dan produktivitas kebun tetap terjaga.
Saat ini, Kamistan aktif sebagai petani pelopor agroforestri di Desa Duaboccoe dan menjadi anggota tim inti TP2CI di SL 70 Duaboccoe. Kebunnya sering menjadi lokasi belajar bagi petani maupun berbagai pihak yang ingin melihat langsung penerapan agroforestri dan pertanian cerdas iklim. Dengan penuh percaya diri, Kamistan berbagi pengalaman berdasarkan praktik yang telah ia lakukan sendiri.
Bagi Kamistan, bergabung dengan Land4Lives tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga mengembalikan keyakinannya bahwa sistem agroforestri merupakan pilihan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Di tengah semakin luasnya budidaya jagung monokultur di Desa Duaboccoe, ia percaya agroforestri mampu menjadi solusi untuk menjaga produktivitas lahan, meningkatkan pendapatan, sekaligus memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim.
