Oleh: Suaib AD Tayang dan Junaidi Hutasuhut
Kelompok Usaha Pakkita di Desa Latellang merupakan salah satu contoh kelompok usaha rumah tangga yang berkembang melalui pelatihan dan pendampingan Program Riset Aksi Land4Lives. Kelompok ini beranggotakan 39 orang, terdiri atas 31 perempuan dan 8 laki-laki. Pakkita terbentuk setelah anggota mengikuti pelatihan pengolahan kolang-kaling yang difasilitasi oleh tim Land4Lives.
Kolang-kaling dipilih karena pohon aren cukup melimpah di kebun masyarakat. Selama ini, ketersediaan bahan baku tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pelatihan, anggota kelompok melihat peluang untuk mengolah buah aren menjadi kolang-kaling yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Pemanfaatan aren tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai ekologis. Pohon aren dapat tumbuh secara alami di berbagai kondisi lahan, termasuk pada lahan yang kurang sesuai untuk komoditas pertanian lainnya. Sistem perakarannya membantu menahan tanah dan mengurangi risiko erosi, terutama di wilayah berbukit. Sebagai tanaman tahunan, aren juga menyimpan karbon dan dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Sebelum mengikuti pelatihan, anggota kelompok belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah kolang-kaling. Setelah mendapatkan pelatihan, mereka mulai memproduksi dan memasarkan kolang-kaling ke desa-desa sekitar dan wilayah Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone.
Tidak hanya belajar mengolah produk, anggota Kelompok Usaha Pakkita juga mendapatkan pengetahuan mengenai pengemasan. Jika sebelumnya produk dikemas secara sederhana, kini mereka mulai meningkatkan kualitas kemasan dengan dukungan dan pendampingan lanjutan dari Land4Lives.
Saat ini, produksi kolang-kaling dilakukan berdasarkan pesanan dan dikerjakan secara bergantian di rumah anggota kelompok. Pakkita belum memiliki tempat produksi tetap, sehingga sistem produksi masih disesuaikan dengan kebutuhan. Keuntungan dari penjualan kolang-kaling kemudian diputar kembali sebagai modal usaha. Dengan cara ini, kelompok dapat mempertahankan kegiatan produksi sekaligus secara bertahap meningkatkan kapasitas usahanya.
Bagi anggota kelompok, usaha kolang-kaling juga menjadi salah satu strategi untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat perubahan iklim. Selama ini, pendapatan rumah tangga banyak bergantung pada hasil pertanian yang rentan terhadap perubahan cuaca, seperti kekeringan dan curah hujan yang tidak menentu. Dengan adanya usaha pengolahan kolang-kaling, anggota memiliki sumber pendapatan tambahan yang tidak sepenuhnya bergantung pada hasil panen.
Ketika hasil kebun menurun akibat kondisi cuaca, pendapatan dari kolang-kaling dapat membantu menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Dengan demikian, usaha ini tidak hanya memberikan tambahan penghasilan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian iklim.
Kisah Kelompok Usaha Pakkita menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan dapat membantu masyarakat melihat potensi ekonomi dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Dengan meningkatkan keterampilan pengolahan dan nilai tambah hasil kebun, bahan baku yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat berkembang menjadi sumber penghasilan baru.
Ke depan, keberlanjutan usaha ini juga membutuhkan ketersediaan bahan baku yang terjamin. Karena itu, Kelompok Usaha Pakkita perlu mulai mempelajari teknik budi daya dan pengelolaan tanaman aren yang baik dengan dukungan pihak-pihak yang kompeten. Dengan begitu, usaha kolang-kaling tidak hanya dapat berkembang dari sisi pengolahan dan pemasaran, tetapi juga memiliki pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
