Komoditi kacang tanah merupakan salah satu sumber penghasilan masyarakat di Desa Taneotob Kecamatan Nunbena. Bukan hanya Desa Taneotob, tetapi hampir semua desa di wilayah Mollo bagian barat mengusahakan tanaman kacang tanah. Hasil panen kacang tanah umumnya dijual dalam bentuk bahan baku/bahan mentah pasca panen.
Kondisi di atas berbeda dengan yang dilakukan Ibu Since Wedreda Tanu, seorang ibu rumah tangga di Desa Taneotob. Ibu Since adalah Ketua Kelompok Usaha Yagar Sahaduta Taenotob. Bermodalkan ilmu pelatihan pengolahan kacang tanah dan manajemen bisnis yang diperoleh saat menjadi ketua kelompok usaha pada tahun 2024 lalu, ia selanjutnya memilih untuk tidak menjual kacang tanah dalam bentuk bahan baku atau bahan mentah.
Bersama beberapa anggota kelompok usaha yang ia pimpin, mereka mengolah kacang tanah menjadi beberapa produk turunan, seperti kacang telur, kacang disco (pedas), kacang bawang, dan gula kacang. Selain dijual di kios miliknya, produk olahan kacang tanah dititipkan di kios-kios di Desa Taneotob, di sekolah-sekolah, bahkan sampai di galeri NTT Mart di Kupang. Tidak sampai di situ saja, produk olahan kacang tanah juga di pajang di setiap event di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi.
Dari sisi ekonomi, Ibu Since merasa lebih untung. Ia sebelumnya menjual kacang tanah dengan kisaran harga saat panen sebesar Rp.15.000-20.000 per kilogram. Namun setelah ia melakukan pengolahan, 1 kilogram kacang tanah dapat menghasilkan uang lebih dari Rp.75.000. Ukuran kemasan plastik yang Ibu Since gunakan adalah kemasan 200 gram. Pengalamannya, 1 kilogram kacang tanah dapat menghasilkan 5 bungkus kacang bawang dengan harga jual Rp.15.000 per bungkus. Artinya, dari 1 kilogram kacang tanah Ibu since sudah mendapatkan uang sebanyak Rp.75.000.
Berbeda lagi jika produk yang dihasilkan adalah kacang telur dan kacang disco. Satu kilogram kacang tanah dapat menghasilkan lebih dari 7 bungkus kacang telur / kacang disco dengan harga julan sebesar Rp.15.000 per bungkus. Jadinya 1 kilogram kacang tanah dapat menghasilkan uang lebih dari Rp.100.000.
Cerita dari Ibu Since ini membuktikan bahwa, penjualan produk pertanian dalam bentuk bahan baku atau bahan mentah mendatangkan sedikit keuntungan. Ibu Since juga menunjukkan bahwa, perempuan desa bisa mencipatakan usaha skala rumahan dengan mengolah potensi yang dimiliki menjadi lebih bernilai ekonomis, untuk menopang pendapatan rumah tangga.
