Di tengah musim kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), masyarakat menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan pertanian. Curah hujan yang tidak menentu dan musim kering yang semakin panjang menyebabkan lahan pertanian mengering dan retak. Sementara sumber air tanah semakin sulit dijangkau. Kondisi ini membuat para petani kesulitan, terutama pada tahap pembibitan tanaman yang sangat membutuhkan kelembapan stabil untuk tumbuh. Melihat kondisi tersebut, kelompok belajar Nunbena A bersama ICRAF melalui project Land4Lives, mulai mencari solusi yang sederhana namun efektif. Mereka kemudian berinisiatif membuat inkubator tanaman hemat air sebagai upaya menjaga bibit tetap hidup selama musim kemarau panjang. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia dan gotong royong masyarakat, mereka berhasil menghadirkan teknologi sederhana yang sesuai dengan kondisi wilayah TTS. Alat yang digunakan untuk membuat inkubator tanaman sebagai berikut gergaji, palu, paku, parang, linggis, dan hecter tembak. Sementara bahan yang digunakan antara lain plastik PE bening, dua terpal ukuran 4x6, kayu kaso, papan cor, serta serabut kelapa sebagai media pendukung kelembapan. Meskipun beberapa bahan yang digunakan sulit didapatkan dan harus membeli sampai ke Kota Soe, semangat anggota kelompok tidak menurun.
Penentuan lokasi pembangunan inkubator tanaman, dibahas bersama-sama agar mendapatkan tempat yang paling sesuai dan mudah dipantau. Proses pengerjaan dilakukan secara berkelompok sehingga pembangunan dapat selesai lebih cepat dan memperkuat kerja sama antar anggota kelompok belajar Nunbena A. Setelah inkubator tabaman selesai terbangun, bibit tanaman yang sudah disemai sebelumnya langsung dimasukkan untuk menjaga agar kondisi tanaman tetap hijau dan tumbuh baik. Menurut Bapak Yosias Tanu sebagai ketua kelompok dan pengelola inkubator tanaman, setelah 3 minggu tanaman disimpan di dalam inkubator, hasil yang diperoleh ternyata sangat menggembirakan. Bibit tanaman yang disemai di dalam inkubator tetap tumbuh segar dan sehat meskipun cuaca saat itu sangat panas. Petani tidak lagi harus melakukan penyiraman setiap hari karena kelembapan di dalam inkubator dapat bertahan lebih lama. Selain itu, bibit juga lebih terlindungi dari serangan hama dan penyakit. Teknologi sederhana ini terbukti mampu menjawab tantangan pembibitan pada musim kemarau Panjang di Desa Nunbena.
Bapak Yosias Tanu, menyampaikan bahwa keberhasilan ini menjadi harapan baru bagi masyarakat TTS, khususnya di Desa Nunbena. Para petani kini memiliki pengetahuan dan pengalaman baru dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Inkubator tanaman tidak hanya membantu menjaga keberhasilan pembibitan, tetapi juga menjadi contoh bahwa inovasi sederhana berbasis kebutuhan lokal dapat memberikan dampak besar bagi ketahanan pertanian masyarakat.
