Bagi Bapak Thimotius Ellu, pelatihan bukan sekadar kegiatan untuk menambah pengetahuan, tetapi kesempatan untuk memperoleh keterampilan yang dapat langsung diterapkan di lapangan. Setelah mengikuti pelatihan perbanyakan vegetatif, ia tertarik dengan teknik sambung pucuk antara terong budidaya dan terong hutan yang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap hama, penyakit, dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung.
Tidak lama setelah pelatihan selesai, Bapak Thimotius mulai mempraktikkan teknik tersebut di kebunnya sendiri. Dengan penuh semangat, ia menyiapkan batang bawah dari terong hutan dan menyambungkannya dengan beberapa jenis terong budidaya yang biasa ditanam masyarakat. Meskipun awalnya masih dilakukan sebagai percobaan, ia percaya bahwa inovasi tersebut memiliki potensi untuk membantu petani mengatasi berbagai kendala yang sering dihadapi dalam budidaya terong.
Hasil yang diperoleh ternyata sangat menggembirakan. Tanaman sambung tumbuh lebih kuat dengan perakaran yang kokoh, mampu bertahan lebih baik terhadap serangan hama dan penyakit, serta memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan tanaman terong biasa. Masa panen pun menjadi lebih panjang sehingga tanaman dapat terus berproduksi dalam waktu yang lebih lama. Kondisi ini memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh hasil yang lebih banyak dari satu kali penanaman.
Keberhasilan tersebut semakin memperkuat keyakinan Bapak Thimotius bahwa ilmu yang diperoleh dari pelatihan akan memberikan manfaat nyata jika langsung dipraktikkan. Ia merasakan sendiri bagaimana teknologi sederhana yang memanfaatkan sumber daya lokal dapat meningkatkan produktivitas kebun tanpa membutuhkan biaya yang besar.
Seiring berjalannya waktu, tanaman terong sambung di kebunnya mulai menarik perhatian petani lain yang datang untuk melihat hasilnya secara langsung. Banyak yang penasaran dengan proses sambung pucuk dan ingin mengetahui manfaat yang diperoleh. Dengan senang hati, Bapak Thimotius berbagi pengalaman dan menjelaskan langkah-langkah yang ia lakukan agar semakin banyak petani dapat mencoba teknik tersebut.
Menurutnya, kemauan untuk belajar dan mencoba hal baru merupakan salah satu kunci penting dalam menghadapi tantangan pertanian saat ini. Perubahan iklim, serangan hama, dan keterbatasan sumber daya menuntut petani untuk terus berinovasi dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Kisah Bapak Thimotius Ellu menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah sederhana. Dari keberaniannya mencoba teknik sambung pucuk setelah mengikuti pelatihan, lahirlah contoh nyata bahwa pengetahuan yang diterapkan di lapangan dapat meningkatkan produktivitas, memperpanjang masa panen, dan memberikan inspirasi bagi petani lain untuk terus belajar dan berinovasi.
