Oleh: Romadhona Hartiyadi, Neno Oematan
Bagi sebagian orang, usia lanjut sering dianggap sebagai masa untuk mengurangi aktivitas dan lebih banyak beristirahat. Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi Bapak Yesaya Tfuakani. Di usianya yang tidak lagi muda, beliau tetap aktif mengelola kebun dan memproduksi pupuk organik padat maupun cair untuk mendukung usaha taninya. Semangat dan ketekunannya menjadi inspirasi bagi banyak orang di desanya.
Hampir setiap hari, Bapak Yesaya memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan berbagai bahan alami yang tersedia di sekitar rumah dan kebun, seperti sisa tanaman, daun-daunan, serta bahan organik lainnya. Dengan pengetahuan yang diperolehnya melalui pelatihan dan pengalaman praktik, bahan-bahan tersebut diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Aktivitas ini bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi juga bagian dari komitmennya untuk menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian secara berkelanjutan.
Menurut Bapak Yesaya, perubahan yang dirasakan setelah menggunakan pupuk organik cukup nyata. Tanah di kebunnya menjadi lebih gembur, mampu menyimpan air lebih baik, dan tanaman tumbuh lebih sehat. Selain itu, kebutuhan untuk membeli pupuk kimia berkurang sehingga biaya produksi dapat ditekan. Baginya, memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan adalah cara yang bijak untuk mengurangi pengeluaran sekaligus menjaga kesehatan lahan pertanian.
Lebih dari sekadar menghasilkan pupuk, kegiatan ini memberikan makna tersendiri dalam kehidupannya. Di tengah usia yang semakin bertambah, Bapak Yesaya tetap merasa produktif dan memiliki semangat untuk terus belajar. Ia percaya bahwa petani tidak boleh berhenti mencari pengetahuan baru, karena tantangan pertanian terus berubah dari waktu ke waktu, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu hingga kebutuhan untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
semangat untuk terus belajar. Ia percaya bahwa petani tidak boleh berhenti mencari pengetahuan baru, karena tantangan pertanian terus berubah dari waktu ke waktu, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu hingga kebutuhan untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Ketekunan Bapak Yesaya juga menarik perhatian masyarakat sekitar. Banyak petani yang melihat langsung bagaimana beliau memanfaatkan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan kebunnya. Dengan sikap yang terbuka, ia sering berbagi pengalaman dan mendorong petani lain untuk mencoba membuat pupuk organik secara mandiri. Baginya, ilmu akan lebih bermanfaat jika dapat dibagikan dan diterapkan oleh lebih banyak orang.
Kisah Bapak Yesaya Tfuakani membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap berkarya dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Justru dengan pengalaman yang dimiliki, beliau menunjukkan bahwa semangat, kemauan belajar, dan kerja keras dapat terus tumbuh sepanjang hayat. Dari kebun sederhana yang dikelolanya, Bapak Yesaya memberikan pesan penting bahwa pertanian berkelanjutan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dan dari tekad untuk terus bergerak maju, berapa pun usia yang dimiliki.
