Pak Sarikun, atau yang biasa dipanggil Mbah Ikun oleh warga sekitar, adalah seorang petani dari Desa Ganesha Mukti, Kecamatan Banyuasin, Sumatera Selatan. Usianya sudah 65 tahun, tapi semangatnya untuk terus belajar dan berbuat baik lewat pertanian tidak pernah surut. Ia tinggal bersama keluarganya, dan dari halaman rumah yang tidak begitu luas, sekitar 5 x 10 meter, beliau membuktikan bahwa berkebun tidak selalu butuh lahan besar. Yang paling penting adalah kemauan, konsistensi, dan rasa peduli terhadap lingkungan.
Pak Sarikun membangun rumah pembibitan kecil berukuran 3 x 4 meter di pekarangannya. Tempat ini ia manfaatkan untuk menyemai berbagai bibit sayuran seperti cabai, daun bawang, kemangi, dan seledri. Selain itu, beliau juga membuat pupuk organik sendiri, baik yang padat maupun cair. Untuk pupuk padat, bahan yang digunakan berasal dari jerami dan sampah rumah tangga. Sedangkan pupuk cair (POC) dibuat dari nasi basi, air cucian beras, dan sisa-sisa dapur lainnya. Semua bahan mudah didapat dan tidak berbayar, hanya butuh ketelatenan.
Saat sesi wawancara, Pak Sarikun menceritakan secara detail metode bertaninya. Beliau meracik dekomposer lokal yang ia beri nama “Anglingdarmo”. Racikan ini hasil dari fermentasi bahan organik dan diyakini mengandung jamur Trichoderma, yang bisa membantu proses pengomposan. Tak hanya itu, beliau membuat ramuan alami penolak hama dari asap cair yang dicampur dengan tanaman tertentu seperti daun gamal. Ramuan ini terbukti bisa menjaga tanaman tetap sehat tanpa bahan kimia.
Hasil berkebun Pak Sarikun ternyata tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga bisa dijual. Misalnya, saat panen cabai, beliau bisa dapat sekitar 5 kg, yang sebagian dijual ke warung dan sisanya dimasak di rumah. Kebun sederhana ini ikut membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan mengurangi belanja harian. Kebunnya Pak Sarikun sudah ikut memenuhi prinsip B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman). Jadi, bukan hanya sekedar menanam, tapi juga menjaga kesehatan keluarga dan mengurangi pengeluaran sehari-hari.
Penggunaan pupuk organik buatan sendiri tidak hanya diterapkan di pekarangan, tetapi juga di lahan sawah milik Pak Sarikun. Pada musim tanam tahun 2024, ia mengurangi penggunaan pupuk kimia, hanya menggunakan 50 kg urea dan 2 karung pupuk NPK (sekitar 100 kg). Perawatan yang dilakukannya dengan penyemprotan POC (Pupuk Organik Cair) racikannya setiap minggu. Meskipun komposisi pupuk kimia dikurangi secara signifikan, hasil panennya tetap memuaskan dan bisa bersaing dengan petani lain yang masih bergantung penuh pada pupuk sintetis.
Hal yang dilakukan Pak Sarikun tidak hanya berdampak bagi hasil panen, tapi juga untuk lingkungan. Mengurangi pupuk kimia artinya mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari proses produksi pupuk sintetis. Di sisi lain, penggunaan limbah organik membantu mengurangi jumlah sampah dan memperbaiki kualitas tanah. Praktik seperti ini jadi bagian penting dari pertanian cerdas iklim, bertani dengan cara yang adaptif dan lebih berkelanjutan di tengah kondisi iklim yang makin tidak menentu.
Tantangan yang dihadapi Pak Sarikun selama bertani beragam macamnya. Beliau pernah mengalami kekeringan di musim kemarau, masuknya air asin ke lahan, sampai banjir yang merusak tanaman. Tapi karena tantangan itulah, beliau terus mencari cara agar pertanian tetap bisa berjalan. Semangatnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri tidak pernah padam.
Pak Sarikun berharap ada dukungan lanjutan, terutama dalam hal pemasaran hasil kebun dan penyediaan alat produksi seperti drum atau ember besar untuk pembuatan pupuk dalam jumlah lebih banyak. Baginya, pertanian rumah tangga bukan sekadar soal panen atau makan dari hasil kebun, tapi juga soal memberi manfaat untuk keluarga, lingkungan, dan orang-orang di sekitar.
“Manusia pasti banyak kurangnya,” kata beliau dengan senyum tenang. “Tapi kalau kita bisa manfaatkan pekarangan untuk berkebun, bikin pupuk sendiri, dan berbagi ke sekitar, itu sudah jadi hal baik.”
Kisah Pak Sarikun jadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan usia bukanlah batas untuk berkreativitas. Dari pekarangan rumah, dari sisa dapur, dari semangat untuk terus belajar dan berbagi. Pertanian tidak selalu soal luasnya lahan atau banyaknya alat. Tapi soal niat, kepedulian, dan kesediaan untuk menjadi bagian dari solusi.
