Di Desa Mangsang, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, tumbuh sebuah cerita inspiratif tentang perempuan desa yang tak hanya menjaga dapur tetap hangat, tetapi juga menyuburkan tanah dan harapan. Cerita ini datang dari Ibu Susmiati, dikenal sebagai sosok ulet yang berhasil mengolah bahan organik/hijauan menjadi peluang emas, sejak bergabung dalam kelompok dan mengikuti pelatihan-pelatihan pengelolaan usaha berbasis pertanian.
Beliau adalah sosok pemimpin tangguh di balik Kelompok Kreatif Sukses, sebuah komunitas perempuan yang berhasil mengubah daun gamal (Gliricidia sepium) menjadi pupuk organik cair (POC) bernilai ekonomis tinggi.
Awal Mula yang Sederhana, Tapi Penuh Semangat
Perjalanan ini dimulai saat Desa Mangsang mendapat binaan tim pendamping dari ICRAF Melalui project Land4lives . Mereka mengadakan pelatihan Pertanian cerdas iklim, pangan gizi dan akses pasar serta pembiayaan inovatif . Materi pelatihan saat itu terasa asing bagi para ibu - ibu mereka bingung dengan istilah seperti cuaca mikro, ketahanan pangan, hingga teknik tanam modern.
Namun dari kebingungan itu, muncul tekad untuk belajar. Bu Susmiati, yang saat itu dipercaya menghimpun peserta pelatihan, kemudian membentuk kelompok perempuan bernama "Kreatif" dan untuk kelompok laki“ itu bernama sukses. Seiring waktu, kelompok bapak-bapak semakin sedikit yang datang. jadi Mereka berinisiatif untuk menggabungkan dua kelompok menjadi satu, lahirlah nama yang kini dikenal: Kreatif Sukses.
Sebagai seorang petani, Ibu Susmiati dikenal suka mencoba hal-hal baru. Ketertarikannya terhadap pertanian organik membawanya untuk mencoba membuat pupuk cair dari daun gamal, yang dulunya dianggap sebagai limbah atau pakan ternak. Dengan adanya pendampingan dari ICRAF, semangat mencoba hal baru itu semakin kuat.
Inovasi dari Alam Sekitar
Salah satu terobosan terbesar kelompok ini adalah pembuatan pupuk organik cair dari daun gamal, daun yang dulunya dianggap limbah atau pakan ternak. Dengan bimbingan dari ICRAF, Bu Susmiati dan para anggota belajar cara meramu pupuk cair berbasis fermentasi. Prosesnya sederhana: daun gamal dihancurkan dan dicampur dengan bahan alami seperti air cucian beras, gula merah, dan limbah dapur.
Hasilnya ternyata luar biasa. POC buatan mereka sangat cocok untuk tanaman seperti sawi, bayam, kangkung, dan cabai. Tanaman tumbuh lebih cepat, daun lebih hijau, dan tanah tetap sehat.Dari segi Permintaan juga terus meningkat,terutama mulai diminati tetangga dan perani di desa sekitar karena tren pertanian sehat dan organik kini makin berkembang.
Prospek Bisnis Cerah
Melihat antusiasme pasar lokal, kelompok usaha di bawah binaan Ibu Susmiati kini mulai merancang strategi pemasaran sederhana: mulai dari penjualan langsung, kemasan produk menarik, hingga promosi melalui kegiatan kelompok tani wanita. Selain itu, mereka juga sedang mempersiapkan proses sertifikasi P-IRT dan Halal, agar produk lebih kredibel dan bisa menembus pasar yang lebih luas.
Berdasarkan proses produksi yang dilakukan secara mandiri dan berbahan lokal, biaya pembuatan 1 liter POC diperkirakan berkisar Rp4.000–Rp7.000, termasuk pembelian bahan botol dan kemasan sederhana. Produk ini bisa dijual di harga Rp10.000–Rp12.000 per botol 1 liter. Dengan selisih keuntungan minimal Rp3.000–Rp5.000 per botol, usaha ini berpotensi memberikan penghasilan tambahan yang berkelanjutan terutama jika mampu dipasarkan ke luar desa dengan kombinasi pemanfaatan platform digital.
Selain POC, Kelompok Kreatif Sukses juga mulai mencoba pembutan produksi pupuk organik padat. Bahan bakunya masih berasal dari limbah pertanian dan rumah tangga, seperti daun kering, sisa sayuran, dan bahkan tangkos sawit. Proses pengomposan dilakukan secara alami, dengan teknik yang mereka pelajari sendiri. Walaupun masih dalam tahap pengembangan dan uji coba media terbaik, produk pupuk padat ini menjadi langkah lanjutan untuk memperluas lini usaha dan sebagai bentuk pengembangan usaha yang lebih beragam.
Tantangan Masih Ada, Tapi Harapan Lebih Besar
Meski belum memiliki lahan sendiri dan masih menghadapi kendala seperti keterbatasan media penguraian kompos (tangkos) dan bibit unggul, semangat kelompok ini tidak pernah padam. Mereka bermimpi bisa membangun penangkaran bibit dan memperluas jangkauan pasar pupuk organik mereka.
Bu Susmiati menyebut dukungan ICRAF sangat penting:
"Dulu kami pernah membuat pupuk poc, pupuk padat, pernah tapi belum pernah tau panduan pastinya gitu. Ini kami diajarin dari awal banget, rasanya seperti punya ibu baru yang membimbing kami dengan sabar," ujarnya.
Cerita Bu Susmiati dan Kelompok Kreatif Sukses adalah bukti bahwa kemandirian desa bisa tumbuh dari akar lokal dan semangat gotong royong. Dari daun gamal yang sederhana, lahir harapan baru untuk keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan pertumbuhan ekonomi desa.
