Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, dampak perubahan iklim sangat nyata dirasakan sektor pertanian di Sulawesi Selatan. Anomali cuaca membuat musim tanam sulit untuk diprediksi sehingga terjadi gagal panen di mana-mana yang terjadi pada persawahan maupun Perkebunan. Musim kemarau di awal 2026 menghantam petani di Desa Latellang, Kabupaten Bone.
Ibu Marliana, 47 tahun, salah satu petani yang terdampak oleh ganasnya cuaca yang tidak bisa diprediksi. Dua petak sawahnya yang biasa panen 15 karung gabah, tahun ini cuma sisa 3 karung. “Jangankan ada sedikit keuntungan pak, biaya pengeluaran seperti pengolahan tanah pupuk dan tenaga pun tidak kembali, kita hanya bisa mengiklaskan dan berharap akan ada pengganti yang lebih dari rejeki yang tak terduga nanti” kisahnya. Jagungnya pun kerdil. Untuk kesekian kalinya Ibu Marliana berpikir untuk berhenti jadi petani. Seolah tanah seperti mengkhianati. Namun dari Bertanilah satu satunya harapan untuk membiayai sekolah 2 anaknya.
Titik balik datang pada 2022 saat ICRAF memperkenalkan sekolah lapang agroforestri melalui program land4live di Desa Latellang. Ibu Marliana tidak diam. Ia ikut di setiap pertemuan, memperhatikan dan mencatat setiap kegiatan pelatihan cara membuat pupuk kompos, membuat pestisida nabati, membibit, menanam, pemupukan hingga pemangkasan. Dulu kakao adalah tanaman pokok di kebun warga Latellang. Namun karena pohon tua tidak produktif dan minim ilmu budidaya, kakao ditebang habis dan diganti jagung monokultur.
Titik balik datang pada 2022 saat ICRAF memperkenalkan sekolah lapang agroforestri melalui program land4live di Desa Latellang. Ibu Marliana tidak diam. Ia ikut di setiap pertemuan, memperhatikan dan mencatat setiap kegiatan pelatihan cara membuat pupuk kompos, membuat pestisida nabati, membibit, menanam, pemupukan hingga pemangkasan. Dulu kakao adalah tanaman pokok di kebun warga Latellang. Namun karena pohon tua tidak produktif dan minim ilmu budidaya, kakao ditebang habis dan diganti jagung monokultur.
“Saya hitung-hitung padi dan jagung di setiap tahunya dengan kondisi cuaca yang kurang mendukung kalau gagal kerugian sangat besar dari biaya yang dikeluarkan. Kakao bisa panen tiap bulan. Ada pohon pelindung, tanah tidak panas”, ujarnya. Ditengah krisis biaya bertani Selain ilmu pengetahuan budidaya ICRAF juga hadir memberikan bantuan fisik berupa bibit tanaman, pupuk kompos dan alat penunjang kegiatan di kebun dan ada lebih dari 25 petani yang mendapat manfaat (mattiro deceng nama kelompok tani Desa Latellang) melalui kegiatan land4lives.
Tanpa pikir panjang, dengan ilmu yang diperoleh Ibu Marliana yakin untuk memulai menjalankan usaha tani agroforestri. April 2026, kebun Ibu Marliana sudah bicara dari yang sebelumnya kebun dengan luas 0,25 ha hanya diisi dengan tanaman jagung kini sudah ada 150 pohon tanaman kakao: Sebagian umur 3 bulan setinggi paha orang dewasa, Sebagian lagi 1 tahun sudah siap pemangkasan bentuk, ada 5 alpukat dan ada 2 durian. Sebagai pelindung sementara ia tanam pisang, jambu, mangga, dan kelapa. “ini Tabungan saya kalau sawah gagal lagi masih ada kakao,” katanya. Ia tidak sendiri. Bu Desa, Pak Sekdes dan Pak Askar ikut menanam. Kini rata-rata 0,25 ha lahan per petani di Latellang sudah jadi kebun agroforestri kakao. Dari Ikhlas tumbuh 150 harapan baru ditangan Ibu Marliana.
Latellang punya Asuransi dari pohon, bagi Ibu Marliana, kakao adalah asuransi yang ditanam. Targetnya 2 tahun lagi panen perdana, biaya kerugian Bertani sebelumnya dapat tertutupi dan biaya sekolah anaknya bisa tercukupi. “meski kemarau panjang lagi saya tidak takut. Ada kakao ada pisang, ada kelapa, ada alpukat dan durian,” tegasnya. Mimpi Latellang kini sama, tidak lagi mengandalkan 1 jenis komoditi disatu luasan lahan, jika 0,25 ha per petani ini berbuah, Desa punya benteng baru melawan krisis iklim.
