Puang Darwis (52 tahun) selalu hadir dalam setiap kegiatan pendampingan yang dilaksanakan Land4Lives sejak tahun 2023. Mulai dari sosialisasi, pembentukan kelompok belajar, hingga berbagai pelatihan bertema perubahan iklim. Meski tidak banyak melontarkan pertanyaan dalam setiap kegiatan, Puang Darwis selalu memiliki rencana untuk memperbaiki kebunnya.
Mendengar, mencatat, dan mencermati setiap materi yang disampaikan menjadi kebiasaannya. Ketika mengikuti pelatihan pembibitan, ia belajar cara menyemai benih, membuat komposisi media tanam yang baik, serta merawat bibit. Rasa penasarannya pun semakin besar.
"Setelah bibit ini tumbuh, nanti akan diapakan?" tutur Puang Darwis.
Empat bulan kemudian, Land4Lives kembali mengadakan pelatihan perbanyakan vegetatif di pembibitan. Banyak istilah baru yang membuatnya semakin penasaran.
"Apa itu perbanyakan vegetatif?" ujarnya sambil tersenyum.
Saat pelatihan dimulai, fasilitator memberikan penjelasan singkat, kemudian mengajak peserta mempraktikkan perbanyakan vegetatif menggunakan bahan yang telah disiapkan. Setelah selesai praktik, Puang Darwis spontan berkata sambil tertawa, "Oh, ternyata perbanyakan vegetatif itu penyambungan tanaman."
Bibit hasil sambung tumbuh dengan baik, begitu pula bibit cengkeh, pala, durian, dan kakao. Setelah sekitar tiga bulan, bibit siap ditanam di kebun belajar maupun kebun pribadi. Namun, kembali muncul pertanyaan di benaknya.
"Bibit ini akan ditanam begitu saja atau ada caranya?"
Tak lama kemudian, Land4Lives mengadakan pelatihan pembangunan kebun belajar. Kebun milik Puang Masse dipilih sebagai lokasi belajar karena berada di belakang rumah, dekat jalan utama, dan mudah dijangkau masyarakat.
Beberapa peralatan, seperti rol meter, cangkul, bilah bambu, pupuk, dan bibit tanaman telah disiapkan. Fasilitator mengajak peserta mengukur lahan menggunakan rol meter sepanjang 100 meter. Setelah itu, peserta memasang ajir setiap 10 meter, membuat lubang tanam, mencampurkan tanah bagian atas dengan pupuk kandang, lalu menanam bibit sesuai jarak tanam yang telah ditentukan.
Setelah bibit durian ditanam, Puang Darwis kembali bertanya, "Di antara tanaman durian ini bisa ditanam apa, Pak?"
Fasilitator menjelaskan bahwa ruang di antara tanaman utama dapat dimanfaatkan untuk menanam kakao, pala, lada, maupun tanaman semusim seperti cabai, terong, dan jagung.
"Berarti kita bisa mendapatkan hasil dari tanaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, ya Pak?" tanyanya sambil menganggukkan kepala.
Dua minggu setelah kegiatan di kebun belajar, Puang Darwis mulai menerapkan apa yang telah dipelajarinya. Bersama istri dan anak-anaknya, ia mengukur lahan, memberi tanda titik tanam, membuat lubang tanam, kemudian menanam alpukat, pala, lada, durian, serta cabai sebagai tanaman sela.
Tanaman-tanaman tersebut tumbuh dengan baik karena dirawat secara rutin. Kebunnya kemudian dijadikan lokasi kunjungan dalam kegiatan Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim. Peserta dari Desa Bulusirua dan Lamoncong datang untuk belajar langsung di kebunnya.
Berbagi pengalaman dan sesi tanya jawab pun berlangsung hangat, diselingi humor dan percakapan dalam bahasa daerah. Para peserta mengaku mendapatkan banyak pembelajaran yang akan mereka terapkan di kebun masing-masing.
