Perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Di Desa Hulo, perubahan berawal dari sekelompok masyarakat yang memiliki semangat untuk belajar bersama. Tanpa membedakan usia maupun status sosial, mereka berkumpul dengan tujuan yang sama, yaitu belajar dan berkembang bersama.
Kelompok Belajar SL 10 Desa Hulo diinisiasi oleh Program Land4Lives yang menjalankan kegiatan dari tingkat tapak hingga nasional dengan fokus pada isu perubahan iklim.
Melalui kelompok belajar ini, anggota mempelajari perubahan iklim yang sedang terjadi serta berbagai praktik Climate Smart Agriculture (CSA). Kegiatan yang dilakukan meliputi pembangunan kebun belajar, kebun dapur, dan pembibitan. Anggota juga belajar memilih jenis tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim serta menerapkan praktik budidaya yang ramah lingkungan, seperti pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain itu, mereka mendapatkan pelatihan pembuatan benih dan bibit unggul, baik tanaman buah melalui pembenihan dan perbanyakan vegetatif maupun tanaman sayuran, mulai dari pembenihan mandiri, budidaya, hingga pascapanen.
Transformasi Kelompok Belajar
Setelah empat tahun berjalan, anggota kelompok telah mempelajari banyak hal mengenai CSA. Selanjutnya, muncul pertanyaan mengenai bagaimana kelompok ini dapat terus berjalan setelah proses pembelajaran selesai. Melalui diskusi bersama tim Land4Lives, kelompok kemudian bersepakat untuk membangun unit usaha berbasis produk agroforestri.
Perubahan dari kelompok belajar menjadi kelompok usaha inilah yang disebut sebagai transformasi kelompok. Kelompok SL 10 Desa Hulo yang awalnya dibentuk sebagai wadah belajar bersama kini berkembang menjadi kelompok usaha yang memproduksi Virgin Coconut Oil (VCO) serta mengembangkan usaha pembibitan tanaman buah dan kakao.
Membangun Kemandirian
Melalui proses diskusi yang panjang, tim Land4Lives dan anggota kelompok menyimpulkan bahwa usaha yang baik adalah usaha yang membutuhkan biaya produksi relatif rendah, tetapi mampu memberikan nilai tambah dan keuntungan yang optimal.
Berdasarkan hasil kesepakatan, dipilih dua unit usaha yang dinilai paling sesuai untuk dikembangkan di Desa Hulo, yaitu produksi VCO dan pembibitan.
Produksi VCO dipilih karena proses pembuatannya relatif mudah, persaingan pasar masih rendah, dan peluang pemasarannya cukup menjanjikan, terutama apabila didukung dengan kemasan produk yang menarik. Selain itu, hampir seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan. Ampas kelapa dapat digunakan sebagai pakan ternak, tempurung diolah menjadi kerajinan, sedangkan sabut kelapa dapat dimanfaatkan sebagai cocopeat maupun berbagai produk kerajinan lainnya.
Unit usaha kedua adalah pembibitan. Pembibitan dipilih karena kebutuhan bibit kakao dan tanaman buah, seperti alpukat, durian, dan pala, masih cukup tinggi. Kelompok juga telah memiliki sumber entres atau tanaman induk yang dikembangkan sejak kegiatan pembibitan dimulai di kebun belajar dan pekarangan rumah anggota.
Manfaat yang Dirasakan
Nuraeni mewakili kelompok transformasi menyampaikan bahwa produksi VCO memberikan banyak manfaat. Selain meningkatkan pendapatan, proses produksi hampir tidak menghasilkan limbah karena seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan, tergantung pada kreativitas dalam pengolahannya.
Hasfira, yang mewakili tim pemasaran, juga merasakan banyak pengalaman baru. Ia belajar bertemu dengan pembeli, memperbaiki kemasan dan logo produk, serta memahami pentingnya menjaga kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar.
Harapan ke Depan
Bagi seluruh anggota kelompok, transformasi ini merupakan awal dari perjalanan menuju kemandirian. Mereka berharap kelompok dapat terus tumbuh dan berkembang melalui kekompakan, kreativitas, serta semangat belajar yang terus dijaga sehingga mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh anggotanya.
