Oleh: Asgar
Di Kebun Dapur Desa Waekecce, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Rusdiaman mengubah lahan tidur di samping rumahnya menjadi kebun sayur yang produktif. Sebagai petani yang sehari-hari juga beternak sapi, ia mulai membudidayakan berbagai jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sebagian benih bahkan diproduksi sendiri dari hasil panen sebelumnya.
Perjalanan tersebut dimulai pada Juli 2024 melalui pendampingan Climate Smart Agriculture (CSA) dari Land4Lives. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat kompos dari dedaunan di sekitar rumah dan kotoran ternak. Hasilnya, pembenihan berhasil tumbuh dengan baik dan tanaman sayur berkembang subur. Namun, di balik keberhasilan itu muncul tantangan baru berupa serangan hama dan penyakit, terutama ulat grayak dan bercak daun.
Sebagai solusi, tim CSA memperkenalkan pestisida nabati (Pesnab) yang dibuat dari bahan-bahan alami yang tidak disukai hama sekaligus mampu menekan perkembangan penyakit tanaman. Bahan-bahannya mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti daun pepaya, serai wangi, lengkuas, kunyit, brotowali, dan jahe, sehingga biaya pembuatannya hampir tidak ada.
Setelah sekitar tiga bulan rutin menggunakan Pesnab, Rusdiaman merasakan berbagai manfaatnya. Selain lebih ramah lingkungan, biaya produksi menjadi jauh lebih rendah karena bahan bakunya tersedia di sekitar rumah. Tanah tetap terjaga kesehatannya, sementara sayuran yang dihasilkan lebih aman dikonsumsi keluarga.
Meski demikian, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi penggunaan Pesnab. Berbeda dengan pestisida kimia yang efeknya dapat bertahan selama 7–14 hari, Pesnab hanya efektif hingga sekitar empat hari. Pada musim hujan, efektivitasnya bahkan berkurang lebih cepat karena larutan mudah tercuci oleh air.
Oleh karena itu, penyemprotan perlu dilakukan setiap tiga hari sebagai langkah pencegahan. Pada musim hujan, penyemprotan terkadang dilakukan dua kali sehari, yaitu setelah hujan reda pada pagi dan sore hari. Rutinitas ini cukup menguras waktu dan tenaga karena Rusdiaman juga harus mengurus ternak sapi dan sawah.
Pembelajaran yang didapat:
1. Jadwal menjadi kunci. Rusdiaman membuat kalender penyemprotan sederhana yang ditempel di dinding dapur. Menurut pengalamannya, keterlambatan penyemprotan satu hari saja dapat memicu kembali serangan ulat.
2. Menyiapkan stok pekatan. Untuk menghemat waktu, ia
rutin membuat stok pekatan Pesnab setiap minggu sehingga larutan siap digunakan kapan pun diperlukan.
3. Mengombinasikan dengan penguatan tanaman. Selain menggunakan Pesnab, pemberian kompos dan pupuk organik cair (POC) tetap dilakukan secara rutin. Tanaman yang sehat terbukti lebih tahan terhadap serangan hama meskipun jadwal penyemprotan sesekali terlambat.
4. Tetap menguntungkan secara ekonomi. Meskipun membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, biaya produksi hampir nol. Hasil panen mencukupi kebutuhan keluarga, sementara kelebihannya dapat dijual ke pasar.
“Pakai Pesnab itu seperti kasih vitamin ke anak. Harus rutin, tidak bisa sekali saja. Tapi kalau sudah biasa, jadi ringan. Yang penting anak aman makan sayur sendiri,” ujar Rusdiaman.
Kini, Kebun Dapur Rusdiaman di SL 67 Bulutana menjadi lokasi belajar bagi petani lain. Pengalamannya dalam menerapkan pestisida nabati, termasuk menghadapi tantangan menjaga konsistensi penyemprotan, menjadikannya lebih percaya diri berbagi praktik baik dan menjawab berbagai pertanyaan dari para pengunjung.
