Bontocani: Pusat pembelajaran kebun campur – agroforestri dan hasil hutan bukan kayu

Profil Sub-Lanskap

Tentang Bontocani

Sebagai wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila-Walanae, Bontocani memegang peranan penting dalam menjaga fungsi hidrologis dan keseimbangan ekologis, tidak hanya bagi masyarakat setempat tetapi juga bagi wilayah hilir. Lanskap ini menjadi rumah bagi 11 desa dengan jumlah penduduk lebih dari 23.000 jiwa yang kehidupannya sangat terkait dengan sektor pertanian, kehutanan, serta pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Bontocani terletak di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mencakup sekitar 12.823 hektare wilayah yang sebagian besar berada di Kecamatan Bontocani (±85%) dan sisanya di Kecamatan Kahu. Lanskap ini memiliki proporsi kawasan hutan yang mencapai sekitar 64% dari total wilayah, menjadikannya salah satu sub-lanskap dengan tutupan hutan tertinggi di kawasan sekitarnya.

12.823 Ha
Luas wilayah
64%
Tutupan hutan
11 Desa
Kec. Bontocani & Kahu
23.000+
Jiwa penduduk

Di balik potensi ekologis dan kekayaan sumber dayanya, Bontocani masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan lanskap secara berkelanjutan. Beberapa isu strategis yang berkembang di wilayah ini antara lain:

Tantangan Utama

Keterbatasan infrastruktur dasar, termasuk akses jalan dan air bersih, yang menghambat mobilitas dan penyebaran informasi

Akses pasar yang masih terbatas sehingga hasil produksi masyarakat belum memberikan nilai ekonomi optimal

Ancaman bencana alam seperti longsor dan kebakaran hutan, diperparah oleh alih fungsi lahan dan pembalakan liar

Konflik tenurial dan ketidakpastian status lahan yang menghambat investasi dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan

Tingkat kemiskinan dan rendahnya pendidikan masyarakat yang memperkuat kerentanan sosial ekonomi

Kesadaran terhadap pelestarian lingkungan yang masih perlu ditingkatkan

Meskipun demikian, lanskap ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan bentang lahan yang terintegrasi. Potensi HHBK seperti madu, kopi, kemiri, kakao, dan komoditas lainnya, serta keberadaan kawasan perhutanan sosial yang masih relatif terjaga, menjadi modal penting dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Visi Bontocani

“Lanskap lestari menuju masyarakat sejahtera dan berdaya saing”

Strategi Pengembangan

Restorasi lahan kritis melalui penerapan teknik konservasi tanah dan air

Perbaikan tata kelola dan penguatan perhutanan sosial

Penguatan rantai nilai dan kelembagaan usaha berbasis HHBK

Pengembangan agroforestri cerdas iklim di lahan APL

Pengembangan desa wisata dan ekowisata berbasis potensi lokal

Strategi dan Target
Restorasi Lahan Kritis

STRATEGI-1

Restorasi Lahan Kritis

Dalam kurun waktu 5 tahun, 30% luas lahan kritis di sub-landscape 30 Bontocani akan berkurang melalui penerapan teknik konservasi tanah dan air (terasering, gully control, dan vegetasi penutup tanah) di 6.000 hektar lahan.
Konservasi
Restorasi
Konservasi Tanah Air

STRATEGI-2

Perbaikan Pengelolaan Perhutanan Sosial

Pada akhir tahun 2035, 80% dari 20 kelompok perhutanan sosial di Bontocani akan memiliki RKPS yang telah disahkan didukung dengan pembiayaan inovatif dan 60% dari mereka telah berhasil mengimplementasikan rencana tersebut.
Pemanfaatan berkelanjutan
Konservasi
Perhutanan Sosial

STRATEGI-3

Penguatan Rantai Nilai Produk Strategis Secara Berkelanjutan

Pada tahun 2030, pendapatan rata-rata petani dari hasil penjualan produk akan meningkat sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan peningkatan kualitas produk yang dibutuhkan oleh sertifikasi.
Pemanfaatan berkelanjutan
Restorasi
Penguatan Rantai Nilai

STRATEGI-4

Pengembangan Pola Budi Daya Agroforestri Cerdas Iklim di Lahan Milik

Pada akhir tahun 2035, 70% lahan APL telah dikonversi menjadi sistem agroforestri, menghasilkan peningkatan produksi madu, kopi, kemiri, kakao, durian, dan alpukat sebesar 80% dan penurunan penggunaan pupuk kimia sebesar 80%, serta peningkatan pendapatan petani rata-rata sebesar Rp 2.500.000.
Pemanfaatan berkelanjutan
Penguatan Rantai Nilai

STRATEGI-5

Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ekowisata

Pada tahun 2030, terdapat 5 objek destinasi wisata baru, jumlah kunjungan wisatawan ke desa wisata/ekowisata akan meningkat sebesar 100% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan peningkatan pendapatan masyarakat sebesar Rp 2.500.000
Pemanfaatan berkelanjutan
Konservasi

Lebih lanjut tentang Bontocani, bisa dibaca di: [Dokumen Taklimat SL 30]

Paket Belajar

Tema Kunci dan Paket Belajar

Dalam upaya mewujudkan visinya, TP2CI Bontocani menawarkan tema kunci pembelajaran berikut, dengan tiga paket belajar yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.

Tema Kunci

“Pusat Pembelajaran Kebun Campur — Agroforestri dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)”

1. Pembibitan

  • Penyiapan lahan dan lokasi pembibitan
  • Penyiapan media tanam
  • Teknik penyemaian
  • Teknik penyambungan
  • Perawatan
  • Pemilihan bibit unggul
  • Pemilihan entres

2. Kebun Agroforestri

  • Pemilihan jenis tanaman utama dan sela yang sesuai
  • Pengajiran
  • Pembuatan lubang tanam
  • Teknik pemupukan dasar
  • Tata cara penanaman
  • Teknik perawatan dan pemeliharaan
  • Pengenalan teras vegetasi
Fasilitas Materi pembelajaran Narasumber/Fasilitator Alat dan bahan Uang kas
  • Persiapan lahan
  • Persemaian benih
  • Penanaman dan pengaturan jarak tanam
  • Pemeliharaan
  • Panen
  • Pengenalan bahan baku pupuk dan pestisida nabati
  • Tahapan pembuatan pupuk dan pestisida
  • Manfaat pupuk dan pestisida nabati
Fasilitas Materi pembelajaran Narasumber/Fasilitator Alat dan bahan Uang kas
  • Pengenalan produk HHBK
  • Cara pengolahan bahan baku menjadi produk turunan
  • Teknik pemanenan HHBK
  • Manfaat dari masing-masing HHBK
  • Penanganan pasca panen
  • Teknik pengemasan
  • Alur pemasaran
  • Prosedur pengurusan legalitas
Fasilitas Materi pembelajaran Narasumber/Fasilitator Alat dan bahan Uang kas

Tim Kerja

Cerita

Selama empat tahun terakhir, para petani pelopor di Bontocani aktif belajar, bereksperimen, dan menerapkan praktik pertanian cerdas iklim melalui berbagai pengalaman di lapangan. Berikut kisah-kisah mereka:

Lokasi Kami

Kunjungi Kami

Anda dapat belajar langsung di kebun kami dengan ketentuan pengajuan kunjungan sebagai berikut:

  • Peserta setiap keompok yang berkunjung minimal 10 orang, maksimal 30 orang
  • Kegiatan kunjungan dikoordinasikan kepada Koordinator Tim Inti 2 minggu sebelum pelaksanaan kegiatan
  • Membayar uang muka sebesar 30% dari total biaya 4 hari sebelum kegiatan, melalui transfer/tunai ke Heriani
  • Menaati tata tertib di TP2CI SL 30

Hubungi lebih lanjut

Galeri

Bahan Ajar Terkait

Preview Dokumen

Teknik Perbanyakan Vegetatif

Lihat
Preview Dokumen

Pembuatan dan Pengelolaan Pembibitan Tanaman

Lihat
Preview Dokumen

Panduan Pengelolaan Kebun Dapur: Sumber Pangan dan Gizi Keluarga

Lihat

ruang belajar kolaboratif yang menghadirkan contoh nyata praktik pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan agrobisnis berkelanjutan. Mari jelajahi solusi-solusi inovatif dalam menghadapi perubahan iklim langsung dari sumbernya.