Penulis: Iskak Nugky Ismawan
Lebung yang Tumbuh Menjadi Peluang Baru
Bagi Eko, seorang petani anggota kelompok belajar Makmur Sejahtera, keberadaan lebung di sekitar rumah bukan sekadar tempat berkumpulnya air hujan. Sejak bergabung dalam kegiatan kelompok belajar pada 2023, Eko mulai melihat potensi sumber daya yang ada di sekitarnya untuk dikembangkan menjadi bagian dari usaha pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.
Eko aktif mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran dan pelatihan yang diselenggarakan melalui program pendampingan Land4Lives. Salah satu kegiatan yang menarik perhatiannya adalah pelatihan agroforestri menggunakan papan permainan agroforestri. Melalui permainan tersebut, para petani diajak memahami bagaimana mengatur berbagai komponen dalam satu sistem pertanian, mulai dari tanaman utama, tanaman pendamping, hingga ternak seperti sapi, kambing, unggas, dan ikan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan iklim setempat.
Memanfaatkan Lebung untuk Budidaya Ikan
Di sekitar rumah Eko terdapat lebung, yaitu area cekungan yang menjadi tempat berkumpulnya air, terutama saat musim hujan. Kondisinya yang menyerupai kolam alami kemudian menginspirasinya untuk mencoba membudidayakan ikan air tawar.
Eko memulai uji coba dengan memelihara ikan nila dan ikan mas, disertai beberapa jenis ikan lokal seperti gabus, betok, dan sepat. Ikan nila menjadi pilihan utama karena relatif mudah dipelihara dan dapat berkembang biak dengan baik.
Awalnya, budidaya ikan dilakukan sebagai percobaan sederhana. Namun, setelah melihat ikan mampu bertahan hidup dan berkembang biak, Eko mulai melihat peluang ekonomi dari kegiatan tersebut. Ikan yang dipelihara tidak lagi hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi mulai dijual kepada masyarakat sekitar. Keterbatasan modal sempat menjadi tantangan bagi pengembangan usaha tersebut. Eko kemudian membawa pengalamannya ke dalam diskusi kelompok belajar. Dari pembahasan tersebut, budidaya ikan akhirnya menjadi salah satu bagian dari rencana kegiatan kelompok.
Kekuatan Kelompok dalam Mengatasi Keterbatasan Modal
Tahapan uji coba dianggap berhasil karena ikan bertahan hidup dan berkembang biak dengan baik. Budidaya ikan yang awalnya hanya coba-coba punkini dapat menghasilkan uang. Dengan kendala yang ada namun semangat kebersamaan, anggota kelompok sepakat untuk mengumpulkan iuran sebagai modal awal pembelian benih ikan dan pakan. Langkah sederhana tersebut menjadi bentuk gotong royong sekaligus menunjukkan bagaimana proses pembelajaran dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi bersama. Dalam perkembangannya, biaya pakan menjadi salah satu tantangan utama. Ketergantungan pada pelet dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram membuat biaya pemeliharaan ikan cukup tinggi.
Tantangan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembelajaran berikutnya. Melalui pendampingan Land4Lives, kelompok mendapatkan pelatihan mengenai budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu alternatif pakan untuk ikan dan ternak. Para anggota belajar mulai dari pemanfaatan bahan organik sebagai media budidaya, proses pemeliharaan, hingga pemanenan maggot. Pemanfaatan maggot diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial sekaligus memberikan nilai tambah pada limbah organik yang tersedia di sekitar rumah.
Kegiatan budidaya ikan pun mulai banyak dikembangkan di sekitaran rumah anggota,selain tempat memelihara ikan,tempat menampung air hujan yang di manfaatkan untuk menyiram tanaman kebun dapur ataupun pembibitan.
Pembelajaran yang di dapatkan terhadap perubahan iklim adalah limbah organik menyediakan pakan alternatif dan sumber pupuk alami jika diolah dengan benar,iakan membarikan sumber protein dan ketersediaan pangan yang sehat beragam dan aman.
