Penulis: Yoga Lorensa Putra Yusa
Di Desa Mangsang, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pagi dimulai dengan aktivitas warga yang beranjak menjalankan rutinitasnya. Di tengah kesibukan tersebut, Siti Nafiah (44 tahun), telah memulai aktivitasnya di sekitar pekarangan rumah. Bagi Siti, pagi bukan hanya waktu untuk mengurus rumah dan kebun, tetapi juga kesempatan untuk mengolah sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Sebagai salah satu anggota kelompok belajar program Land4Lives di Desa Mangsang, Siti kini rutin memilah dan mengumpulkan limbah organik rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk kompos. Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kebun sayur yang ia kembangkan di lahan sekitar rumah.

Berawal dari Pelatihan, Tumbuh Menjadi Praktik
Siti mulai mengenal teknik pengomposan pada 2023 melalui pelatihan Pertanian Cerdas Iklim (Climate-Smart Agriculture/CSA) yang diselenggarakan melalui program Land4Lives. Melalui pelatihan dan pendampingan rutin, peserta diperkenalkan pada pentingnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga dan ternak, teknik pembuatan pupuk organik, kandungan nutrisi dari berbagai bahan baku, serta manfaatnya bagi tanaman, tanah, dan lingkungan.
“Saya tertarik karena ingin mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang kian mahal dan membuat tanah keras,” ujar Siti. Berbekal pengetahuan dari pelatihan, Siti mulai mempraktikkan teknik pengomposan secara mandiri. Proses belajar dilakukan secara bertahap melalui praktik, membaca buku panduan yang disediakan Land4Lives, serta berdiskusi dengan penyuluh lapangan ketika menghadapi kendala.
Berinovasi dengan Sumber Daya yang Ada
Keterbatasan peralatan yang tersedia tidak menghalangi Siti untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperolehnya dari pelatihan. Ia berinisiatif menyesuaikan metode pengomposan dengan memanfaatkan sumber daya dan kondisi yang tersedia di lingkungan rumahnya.
Siti membuat lubang berukuran sekitar 1 x 2 meter dengan kedalaman 0,5 meter di pekarangan rumah. Lubang tersebut kemudian diisi dengan campuran kotoran kambing, limbah organik dapur seperti sisa sayuran dan kulit buah, dedaunan hijau yang telah dicacah, serta sebagian tandan kosong kelapa sawit yang diperoleh dari sekitar rumah.

Bahan-bahan tersebut dicampur secara merata, kemudian disemprot menggunakan larutan dekomposer yang telah diencerkan dengan air cucian beras. Timbunan kemudian ditutup menggunakan karung bekas dan lapisan tanah untuk menjaga proses penguraian. Sekitar satu bulan kemudian, kompos siap digunakan. Setelah diaplikasikan dan 2x musim tanam, tanah kebun sayurnya menjadi gembur, tidak cepat kering, tanaman cabai, terung, caisin, daun sop dan kangkung tumbuh subur. “Sekarang malah banyak cacingnya, bisa buat umpan mancing” ujar Siti.
Dari Limbah Menjadi Tanah yang Lebih Subur
Kompos yang dihasilkan digunakan sebagai bagian dari pengolahan lahan sebelum penanaman. Setelah digunakan secara rutin selama dua musim tanam, Siti melihat perubahan pada kondisi tanah di kebun sayurnya. Menurutnya, tanah menjadi lebih gembur dan tidak cepat kering, sementara berbagai tanaman seperti cabai, terung, caisin, seledri, dan kangkung dapat tumbuh dengan baik.

“Sekarang malah banyak cacingnya, bisa buat umpan mancing,” kata Siti sambil tertawa. Melihat hasil tersebut, Siti tidak berhenti pada percobaan awal. Ia kemudian mengembangkan metode pengomposan menggunakan terpal dengan bahan yang lebih beragam, termasuk batang pisang dan sabut kelapa. Kompos yang dihasilkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebun sayur di sekitar rumah, tetapi juga untuk kebutuhan kebun lainnya.
“Lumayan, bisa mengurangi pembelian pupuk kimia,” ujarnya. Praktik sederhana tersebut memberikan manfaat ganda bagi Siti dan keluarganya. Limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah kini dapat dimanfaatkan kembali, sementara kebutuhan terhadap pupuk dari luar dapat dikurangi.
Limbah organik rumah tangga bukan lagi sekadar sampah, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Dengan memilah dan mengolah limbah dapur menjadi kompos, ia turut menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mendukung kesuburan tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Kisah Siti menunjukkan bahwa praktik pertanian berkelanjutan dapat dimulai dari langkah sederhana. Meski membutuhkan ketekunan dan waktu, pengolahan limbah organik dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan pertanian keluarga.

Dari Kisah Bu Siti Nafiah ini, membuktikan bahwa dengan kreativitas dan ketekunan, sampah organik rumah tangga bisa menjadi Solusi untuk pertanian berkelanjutan, terutama di saat ini, Dimana tanah sudah tidak subur lagi, harga pupuk kimia yang mahal, setidaknya dari praktik sederhana ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga menjaga lingkungan tetap bersih dan subur. Siti membagikan beberapa hal yang menurutnya penting bagi masyarakat yang ingin mulai membuat kompos sendiri:
- Mulailah dengan bahan sederhana dengan mengumpulkan sisa sayuran dan dedaunan
- Gunakan decomposer (zat pengurai limbah organik) untuk mempercepat proses pengomposan
- Sabar menunggu 3 minggu- 1 bulan untuk hasil optimal
Siti berharap lebih banyak warga yang terinspirasi untuk mengolah limbah organik mereka sendiri. “Daripada menumpuk dan menimbulkan bau, lebih baik diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat” ujar Siti.
