Oleh: Asgar
Di Desa Waekecce, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, keputusasaan yang pernah dirasakan Suryaningsih kini berganti menjadi harapan. Perubahan itu dimulai ketika kebun kakaonya yang sempat terbengkalai kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan mulai berproduksi.
Sebelumnya, kebun kakao miliknya tidak lagi produktif. Tanaman sudah tua, kanopi terlalu rapat, serta serangan hama penggerek buah dan penyakit busuk buah sulit dikendalikan. Perawatan pun semakin berat karena pohon-pohon yang terlalu tinggi dan sistem budidaya monokultur yang hanya mengandalkan kakao. Di tengah kondisi tersebut, Suryaningsih bahkan sempat berpikir untuk menebang seluruh tanaman kakaonya dan menggantinya dengan jagung.
Titik balik terjadi ketika ia mengikuti sosialisasi dan pelatihan Climate Smart Agriculture (CSA) yang difasilitasi Land4Lives. Suryaningsih menjadi peserta pertama yang mengajukan kebunnya sebagai kebun percontohan agroforestri kakao di Kelompok Masseddi, Desa Waekecce.
Keputusan itu bukan tanpa tantangan. Ia harus menyediakan waktu, tenaga, dan biaya untuk merehabilitasi kebunnya. Melalui pendampingan CSA, kebun yang semula dikelola secara monokultur mulai diubah menjadi sistem agroforestri. Kakao lokal digantikan dengan bibit unggul hasil okulasi dan sambung pucuk yang terdiri atas beberapa klon, seperti Sulawesi 2, MCC 02, BB, dan ICRI 09. Selain kakao, ia juga menanam durian montong, alpukat miki, mangga arumanis, dan kelapa genjah sebagai tanaman pelindung sekaligus sumber pendapatan tambahan.
Proses rehabilitasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembukaan lahan tanpa bakar, pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, pengaturan jarak tanam 3,5 × 3,5 meter, hingga pemberian kompos pada setiap lubang tanam. Bagi Suryaningsih, pendekatan ini merupakan pengalaman baru. Terlebih lagi, durian belum pernah dibudidayakan secara luas di desanya karena sebagian besar petani hanya menanam kakao secara monokultur.
Setelah 17 bulan, hasilnya mulai terlihat. Pada Desember 2024, pohon kakao hasil sambung pucuk mulai berbunga lebat dan membentuk buah pentil. Sementara itu, tanaman durian, alpukat, mangga, dan kelapa juga tumbuh dengan baik.
“Dena upikkiri'i taneng sikolae. Wasengi dena na wedding magello paimeng, melona sambei barelle. Naikiya magello paimeng narekko ri tanengi na sibawai paddiseng, ritajetoni mabbua durianna.”
("Dulu saya sudah putus asa. Saya kira kakao di sini sudah tidak bisa tumbuh dengan baik, bahkan ingin saya ganti dengan jagung. Ternyata kakao bisa kembali produktif jika dirawat dengan cara yang baru. Sekarang saya juga menunggu panen durian,") ujar Suryaningsih sambil tersenyum.
Kini, kebun Suryaningsih menjadi kebun percontohan agroforestri kakao di Desa Waekecce. Banyak petani, terutama ibu rumah tangga, datang untuk belajar dan melihat langsung perubahan tersebut. Pengalaman Suryaningsih menunjukkan bahwa dengan penerapan CSA, keberanian mencoba, dan pendampingan yang tepat, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali menjadi sumber penghidupan bagi keluarga.
