Oleh: Asgar
Abidin (50 tahun), seorang petani kakao dari Kelompok Belajar Siamasei 1, Desa Turuadae, memulai perjalanannya bersama Land4Lives dengan semangat belajar dan keinginan untuk memperbaiki kebun kakaonya. Kebun yang sebelumnya sudah tua dan kurang terawat kini mulai kembali produktif. Sebagai ketua kelompok, Abidin tidak hanya aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Land4Lives, tetapi juga meminjamkan lahannya sebagai kebun belajar bagi anggota kelompok.
Kebun kakao Abidin telah berusia lebih dari 20 tahun dan perlu diremajakan serta ditata kembali. Tanaman kakao tumbuh terlalu rapat dan tertutup terlalu banyak oleh tanaman kelapa sehingga produktivitasnya tidak maksimal. Kondisi cuaca yang tidak menentu juga semakin memengaruhi hasil kebun. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Abidin menerapkan teknik peremajaan kakao yang dipelajarinya melalui pelatihan Land4Lives. Ia menggunakan teknik sambung samping dan sambung pucuk tanpa harus menebang seluruh tanaman kakao. Teknik tersebut dipadukan dengan pemangkasan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Penerapan teknik tersebut mulai meningkatkan produktivitas kebunnya. Tanaman kakao yang sebelumnya tua kembali menjadi lebih muda dan produktif melalui sambung pucuk dan sambung samping. Pemangkasan yang tepat juga membantu tanaman mendapatkan cahaya matahari dan meningkatkan sirkulasi udara di kebun. Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi kelembapan berlebih yang berpotensi meningkatkan risiko serangan penyakit dan buah busuk. Selain meremajakan tanaman, Abidin juga mengembangkan pembibitan kakao secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan bibit unggul, baik untuk kebunnya sendiri maupun bagi anggota kelompok.
Saat ini, beberapa klon unggul, seperti S01, S02, MCC, dan M-45, dikembangkan di kebunnya. Penggunaan beberapa klon dalam satu kebun diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas melalui penyerbukan silang antarklon. Kebun tersebut juga menjadi sumber tanaman induk untuk menyediakan entres yang digunakan dalam pembibitan maupun peremajaan tanaman kakao milik anggota kelompok dan petani dari desa sekitar.
Kondisi kebun yang sebelumnya didominasi tanaman tua dan kurang terawat menyebabkan produktivitas rendah sekaligus meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit. Kondisi tersebut dapat semakin diperburuk oleh perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Melalui pemangkasan yang tepat, Abidin berupaya mengurangi kelembapan dan meningkatkan sirkulasi udara di dalam kebun sehingga risiko serangan hama dan penyakit dapat ditekan.
Sementara itu, penggunaan klon unggul dan kombinasi beberapa klon diharapkan dapat meningkatkan produksi sekaligus memperkuat ketahanan kebun terhadap perubahan iklim, hama, dan penyakit.
Kini, Abidin menjadi salah satu rujukan bagi petani di Desa Turuadae dan desa sekitarnya yang ingin belajar meremajakan tanaman kakao menggunakan teknik sambung pucuk dan sambung samping. Banyak petani datang ke kebunnya untuk melihat langsung praktik yang diterapkannya.
Kebunnya tidak hanya menghasilkan tanaman kakao yang lebih produktif, tetapi juga menyediakan bibit dan entres unggul yang dapat dimanfaatkan oleh petani lain. Sebagai ketua kelompok, Abidin menunjukkan bahwa kemauan untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
