Oleh: hamsir & Sumilia
Pekarangan rumah sering kali dipandang sebagai lahan kosong. Padahal, jika dikelola dengan baik, pekarangan dapat menjadi sumber pangan bergizi sekaligus tambahan pendapatan bagi keluarga. Berbagai jenis sayuran dan tanaman buah dapat ditanam untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, bahkan hasil panennya dapat dijual. Pemanfaatan pekarangan juga menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui penyediaan pangan yang sehat, aman, dan bergizi.
Melalui Land4Lives, petani memperoleh pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menerapkan praktik pertanian yang berketahanan iklim. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan pangan dan gizi, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan sumber pangan lokal yang sehat dan bergizi.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, kelompok belajar mengembangkan kebun dapur komunal. Selain menjadi sumber pangan bagi anggota kelompok, kebun ini juga menjadi tempat belajar berbagai teknik budidaya, mulai dari persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, hingga panen dengan menerapkan praktik pertanian yang berkelanjutan.
Salah satu anggota Kelompok Belajar Hijau Daun di Desa Maggenrang yang berhasil menerapkan ilmu tersebut adalah Sajerah (50 tahun). Berbekal pengalaman dari kebun dapur komunal, ia mengembangkan kebun dapur di pekarangan rumahnya seluas sekitar 10 x 10 meter.
Di lahan tersebut, Sajerah menanam berbagai jenis sayuran, seperti sawi, terong, cabai, bayam, kangkung, tomat, kacang panjang, dan seledri. Ia juga memadukannya dengan berbagai tanaman buah, di antaranya pepaya, jambu kristal, alpukat, buah naga, kedondong, jeruk, dan belimbing manis. Pekarangannya kini tidak hanya tampak lebih hijau dan asri, tetapi juga menjadi sumber pangan sehat bagi keluarganya sepanjang tahun.
Bagi Sajerah, mengelola pekarangan bukan sekadar menanam sayuran. Ia juga menerapkan praktik budidaya yang ramah lingkungan. Untuk menjaga kesuburan tanah, ia menggunakan pupuk organik yang dibuat sendiri dari limbah rumah tangga. Pupuk tersebut rutin ditambahkan ke bedengan setelah panen untuk mengembalikan unsur hara tanah.
Sementara itu, untuk mengendalikan hama, Sajerah memanfaatkan pestisida nabati yang diracik dari berbagai tanaman yang tumbuh di sekitar rumahnya. Cara ini membuat tanaman tetap sehat sekaligus menghasilkan bahan pangan yang lebih aman dikonsumsi.
Tidak hanya itu, Sajerah juga sudah mampu memproduksi benih sayuran secara mandiri. Dengan cara tersebut, ia tidak lagi bergantung pada benih hibrida yang dijual di pasaran. Praktik ini menjadi salah satu bentuk kemandirian dalam mengelola kebun pekarangan sekaligus mendukung pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).
Berkebun kini telah menjadi bagian dari keseharian Sajerah. Menurutnya, sejak memiliki kebun pekarangan, kebutuhan sayuran segar untuk keluarga selalu tersedia tanpa harus membeli. Bahkan, hasil panennya juga memberikan tambahan pendapatan bagi rumah tangga.
Dari penjualan sawi dengan harga Rp5.000 per ikat, Sajerah memperoleh pendapatan sekitar Rp700.000. Penjualan cabai rawit pernah menghasilkan sekitar Rp1.000.000 ketika harga mencapai Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, dari penjualan kacang panjang seharga Rp5.000 per ikat, ia memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp200.000.
Awalnya, Sajerah hanya ingin mengurangi pengeluaran rumah tangga dengan menanam sayuran sendiri. Namun, seiring waktu, pekarangan yang dikelolanya justru menjadi sumber penghasilan tambahan. Hasil panen yang melimpah juga sering dibagikan kepada tetangga.
Keberhasilan Sajerah menginspirasi masyarakat di sekitarnya. Semakin banyak warga Desa Maggenrang yang mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan buah-buahan. Pengalaman Sajerah membuktikan bahwa lahan yang terbatas pun dapat memberikan manfaat besar apabila dikelola dengan baik.
Kisah Sajerah menunjukkan bahwa ketahanan pangan keluarga dapat dimulai dari pekarangan rumah. Dengan memanfaatkan lahan secara optimal, keluarga tidak hanya memperoleh akses terhadap pangan yang sehat dan bergizi, tetapi juga memiliki peluang meningkatkan pendapatan rumah tangga. Langkah sederhana ini menjadi contoh nyata bagaimana praktik pertanian berkelanjutan mampu memperkuat kemandirian pangan di tingkat keluarga sekaligus menginspirasi masyarakat di sekitarnya.
