Oleh: Hamsir & Iskak Nungky Ismawan
Nilma, anggota Kelompok Belajar Padaidi di Desa Massila, menjadi salah satu penggerak kelompok dalam mengembangkan kebun dapur yang produktif. Dengan semangat yang konsisten, Nilma mengajak anggota kelompok yang berjumlah 25 orang, terdiri atas 18 perempuan dan 7 laki-laki, untuk menerapkan berbagai teknik sederhana dalam budi daya sayuran yang mereka pelajari melalui pelatihan Program Riset Aksi Land4Lives.
Keterlibatan Nilma dan Kelompok Belajar Padaidi dalam kegiatan Land4Lives dimulai melalui keaktifan mereka mengikuti berbagai pelatihan dan kampanye ketahanan pangan di desa. Pendampingan yang diberikan membantu anggota kelompok meningkatkan keterampilan budi daya sekaligus menerapkan teknologi sederhana yang efektif untuk meningkatkan produktivitas kebun dapur.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan melalui pengembangan kebun dapur komunal. Anggota kelompok menanam berbagai jenis sayuran dengan menerapkan praktik budi daya yang baik, mulai dari pembibitan hingga pemeliharaan tanaman.
Hingga kini, Kelompok Padaidi telah berhasil melakukan tiga siklus produksi sayuran. Kebun dapur dikelola secara rutin, setidaknya satu kali dalam sebulan, dengan anggota kelompok terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari budi daya hingga pembersihan dan pemeliharaan kebun.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem irigasi tetes sederhana menggunakan botol air mineral bekas. Teknologi ini sangat membantu, terutama pada musim kemarau ketika ketersediaan air terbatas. Dengan sistem tersebut, sekitar 80 persen tanaman tetap hidup dan tumbuh sehat selama musim kemarau. Tanaman terong dan tomat menjadi beberapa komoditas yang memberikan hasil cukup baik.
Keberhasilan penerapan irigasi tetes ini kemudian menginspirasi perempuan lain di Desa Massila untuk menerapkan teknologi serupa di pekarangan rumah masing-masing. Selain irigasi tetes, kelompok juga menggunakan pupuk organik dalam budi daya untuk membantu menjaga kualitas dan kesuburan tanah.
Manfaat kebun dapur kini dirasakan langsung oleh anggota kelompok. Kebun tersebut menyediakan sayuran segar dan sehat untuk kebutuhan rumah tangga. Hasil panen tidak hanya dimanfaatkan oleh anggota Kelompok Padaidi, tetapi juga dapat diakses oleh warga desa lainnya.
Kisah Nilma dan Kelompok Belajar Padaidi menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari langkah-langkah sederhana. Melalui pengetahuan, kerja sama, dan inovasi yang mudah diterapkan, kebun dapur tidak hanya menjadi sumber pangan bagi keluarga, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat desa.
